Meraih Kebebasan Finansial

Budi Frensidy · Minggu, 04 Februari 2018 - 19:36 WIB



Dr Budi Frensidy
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI
Penasihat Investasi

BANYAK orang melakukan apa saja untuk menjadi kaya. Padahal menjadi kaya tidak selalu menjanjikan kebahagiaan dan ketenangan. Mereka yang lebih bijak akan memilih menjadi makmur daripada menjadi kaya. Anda mungkin akan langsung bertanya, apa bedanya kaya (rich) dan makmur (wealthy)? Kaya biasanya didefinisikan memiliki aset atau harta yang relatif lebih banyak daripada orang kebanyakan. Jika rata-rata orang Indonesia hanya mampu mempunyai rumah yang harganya ratusan juta rupiah, seseorang yang rumahnya bernilai miliaran rupiah dapat disebut kaya.

Yang lebih cerdas mendefinisikan kekayaan sebagai aset bersih yang dimiliki seseorang. Maksudnya, harta yang dipunyai itu harus dikurangi dengan utangnya. Dalam zaman yang marak dengan kartu kredit dan belanja nontunai lainnya, banyak orang yang kelihatannya kaya sebenarnya tidak kaya karena aset bersihnya relatif minim dan sebagian besar asetnya dibiayai dengan utang.

Sedangkan definisi makmur, menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quadrant (1998), adalah lamanya seseorang dapat mempertahankan standar hidupnya tanpa dia atau anggota keluarga lain harus bekerja. Kemakmuran adalah kemampuan arus kas dari aset produktif atau penghasilan pasif seseorang memenuhi standar kehidupan normalnya.  Jika satuan kekayaan adalah rupiah, satuan kemakmuran adalah waktu (bulan).

Sebagai contoh, jika pengeluaran bulanan Anda Rp10 juta dan aset likuid Anda Rp200 juta, kemampuan Anda untuk bertahan hidup normal tanpa harus bekerja adalah 20 bulan. Jika aset Anda itu produktif, Anda akan mampu bertahan lebih lama dari 20 bulan. Jika aset Anda mampu menopang kehidupan Anda selama beberapa dekade ke depan atau menghasilkan kas lebih dari Rp10 juta per bulan dalam contoh di atas, Anda dikatakan telah mencapai kebebasan finansial (financial freedom).

Kapan pun Anda tidak tergantung pada siapa pun dalam soal keuangan. Menurut Kiyosaki, orang kaya belum tentu makmur, apalagi bebas finansial. Yang ingin kita raih adalah bukan kekayaan tetapi kebebasan finansial.

Kaya tak selesaikan masalah

Banyak orang berpikir permasalahan utama hidupnya adalah uang sehingga memiliki lebih banyak uang dipercaya akan memecahkan masalahnya. Yang terjadi, saat penghasilannya naik, pengeluaran hidup juga meningkat, penggunaan kartu kredit lebih sering, sehingga utang justru membengkak. Orang seperti ini bukannya semakin makmur tetapi semakin jauh dari kebebasan finansial. Mereka lupa kalau yang penting bukan berapa banyak uang yang dapat dihasilkan, melainkan berapa banyak uang yang dapat disimpan dan berapa lama uang itu dapat membiayai kehidupan kita.  

Di banyak negara, banyak orang menjadi kaya karena menang lotere jutaan dolar AS (ekuivalen dengan miliaran rupiah), dapat warisan, atau menjadi selebritas. Tetapi karena tidak memahami kekuatan uang serta tidak mampu mengendalikan diri, uang mereka masuk dan keluar dengan begitu cepatnya. Bukannya membeli aset produktif seperti saham, obligasi, atau properti untuk disewakan, mereka akan membeli rumah yang lebih besar dan mobil yang lebih mewah.

Ujung-ujungnya, uang segera habis dan utang kembali muncul. Anda mungkin masih ingat kisah Mike Tyson, juara dunia tinju termuda sepanjang sejarah yang jatuh miskin, hanya beberapa tahun setelah dia tidak lagi bertanding. Saat jayanya, Mike mampu menghasilkan jutaan dolar AS hanya dari sekali bertanding.    

Inilah sebabnya saya tidak henti-hentinya menuliskan pentingnya kecerdasan finansial. Masalahnya pemahaman mengenai uang ini tidak diajarkan di sekolah. Sekolah hanya menekankan kemampuan skolastik dan profesional, dan bukan kemampuan keuangan yang merupakan ilmu menghadapi kehidupan yang diperlukan semua orang. Bahkan di fakultas ekonomi sekalipun, baik di Indonesia maupun di beberapa negara maju, seperti Amerika, mahasiswa tidak pernah belajar personal finance yaitu bidang ilmu yang sangat diperlukan untuk perencanaan dan pengelolaan keuangan pribadi dan keluarga.

Mahasiswa bisnis dan akuntansi hanya belajar corporate finance yaitu bagaimana mengelola keuangan perusahaan besar (korporasi). Ilmu keuangan korporasi ini tidak pernah mengajarkan bagaimana kita dapat pintar sebagai kas defisit (debitur dalam menghadapi bank) sekaligus lihai sebagai kas surplus (investor). Ilmu keuangan ini juga tidak merefleksikan kenyataan perusahaan di Indonesia yang sebagian besar tidak punya akses ke pasar modal.

Aset Produktif Sumbernya

Saya melihat banyak sekali orang yang hidupnya sangat dikuasai uang. Yang bijak menurut saya, mestinya kita yang menguasai uang dan bukan dikuasai uang. Jika rumah Anda yang harganya ratusan juta rupiah sudah nyaman, buat apa beli rumah baru yang lebih besar dengan harga miliaran rupiah? Jika mobil Anda yang masih berumur dua tahun sudah memberikan banyak kemudahan, buat apa memaksakan diri membeli mobil baru yang lebih mahal dengan berutang?

Belilah aset produktif dan bukan aset konsumtif. Rumah dan mobil lebih tepat dikelompokkan sebagai kewajiban dan bukan aset. Rumah atau properti yang dapat disewakan dan memberikan return tahunan sekitar 5-10% adalah investasi tetapi rumah yang ditinggali atau yang tidak disewakan adalah kewajiban.

Aset produktif mendatangkan kas masuk sedangkan aset konsumtif menyebabkan kas keluar. Silakan membeli rumah yang lebih besar dan mobil baru setelah Anda mencapai kebebasan finansial. Anda dapat menggunakan penghasilan pasif dari saham, obligasi, usaha, dan properti yang Anda miliki untuk membeli rumah dan mobil yang Anda idamkan itu.

Kunci meraih kebebasan finansial adalah mampu mengendalikan diri dan dapat memisahkan keinginan dari kebutuhan. Uang tidak akan pernah memecahkan masalah finansial Anda jika Anda terobsesi untuk memenuhi semua keinginan Anda. Luruskan persepsi salah Anda terhadap uang. Kebebasan finansial adalah hasil proses mental dalam memandang dan memahami uang. Terakhir, buatlah uang Anda bekerja untuk Anda. Anda pun akan menjadi bebas finansial.

Editor : Zen Teguh

KOMENTAR