Ngeri-ngeri Sedap Grup D dan F Piala Dunia 2018

Abdul Haris · Sabtu, 02 December 2017 - 16:01 WIB

ABDUL HARIS
Wartawan iNews.id

 

BANYAK orang bilang tak ada grup neraka dalam Piala Dunia 2018. Bisa jadi benar jika melihat tak adanya negara raksasa sepak bola yang berkumpul sampai tiga tim dalam satu grup.

Yang ada hanya bergabungnya juara dunia 2010 dan tiga kali juara Eropa Spanyol dengan Portugal yang baru saja kampiun Euro 2016 di Grup B. Namun, dua tim lainnya, Maroko, dan Iran, bisa dibilang bukan lawan sepadan buat dua tim bertabur bintang tersebut.

Namun, jika kita mengesampingkan nama besar dan hanya bertumpu pada performa terkini, Grup D dan F bisa jadi grup yang paling tricky.

 

Hattrick Lionel Messi (10) ke gawang Ekuador memastikan langkah Argentina ke Rusia 2018.
(Foto: newindianexpress.com)

Dari nama besar, Argentina yang notabene dua kali juara dunia (1978, dan 1986) memang pantas jadi favorit. Namun, keberadaan Islandia, Kroasia, dan Nigeria bisa membuat tim Tango merasakan yang namanya ngeri-ngeri sedap. Kenapa begitu? Yuk, kita runut satu-persatu.

Secara tim, Argentina dihuni gugusan bintang yang menghiasi langit ketujuh di jagad sepak bola dunia. Siapa yang tak kenal Lionel Messi? Dari kakek-kakek sampai kids zaman now juga pasti tahu siapa dan bagaimana kualitas striker yang pernah lima kali dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia itu (2009, 2010, 2011, 2012, dan 2015).

Belum lagi pesona yang ditampilkan Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Paolo Dybala, yang membuat bintang Inter Milan sekelas Mauro Icardi jarang dipanggil tim nasional negaranya.

Namun, faktanya dengan bertabur pemain top itu tak membuat Argentina mulus menuju putaran final tahun depan. Mereka sempat mengalami turbulensi dalam perjalanan mereka ke Rusia.

Bahkan, kalau saja tak ada hattrick Messi yang membalikkan gol cepat gelandang Ekuador Romario Ibarra pada laga terakhir kualifikasi, tim Tango bakal jadi penonton saja tahun depan. Itu pun lolos langsungnya Messi dkk tak lepas dari "bantuan" Brasil yang membantai Cile 3-0, serta imbangnya Kolombia kontra tuan rumah Peru.

Di Rusia, mesin Argentina tak boleh lagi terlambat panas. Sebab, Islandia, Kroasia, dan Nigeria bukan lawan yang bakal kasih kesempatan kedua buat mereka.

Islandia yang melakoni debutnya di turnamen ini tak bisa dipandang sebelah mata. Negara yang populasinya hanya sekitar 330.000 itu atau hanya 3,3 persen dari penduduk Jakarta itu, sedang dalam masa keemasan.

Belum lepas dari ingatan kita bagaimana tim berjuluk Strakarnir okkar itu menerobos masuk perempat final Euro 2016 dengan menumbangkan Inggris yang secara kasta sepak bola lebih tinggi dari mereka.

Sementara Kroasia yang bisa dibilang “pemain baru” dalam level tertinggi sepak bola dunia itu setelah melakoni debut Piala Dunianya pada 1994 di Amerika Serikat, juga sedang bagus-bagusnya secara tim.

Pada fase grup Euro 2016 lalu, tim sekelas Spanyol yang datang sebagai juara bertahan harus merelakan posisi puncak buat Kroasia. Sayang kala itu, mereka kurang beruntung tersingkir pada 16 besar dari Portugal.

Sedangkan Nigeria yang melakoni Piala Dunia keenamnya - tiga kali berurutan - sudah tiga kali melaju ke 16 besar (1994, 1998, dan 2014). Ditopang John Obi Mikel, Victor Moses, dan striker muda Kelechi Iheanacho, The Super Eagles kerap menunjukkan sepak bola bergaya Afrika yang sangat bertenaga dengan kecepatan menakjubkan.

 

Bermodal pemain muda, Jerman juara Piala Konfederasi 2017.
(Foto: dispensablesoccer.com)

Lalu, bagaimana Grup F? Sama seperti Argentina di Grup D, pasti semua orang juga sepakat menjagokan Jerman yang bakal lolos ke fase gugur. Tapi, saya memprediksi tak akan mudah buat Der Panzer melaju meski pun nasib mereka tak bakal mengulangi juara bertahan dua edisi sebelumnya (Italia dan Spanyol) yang tersingkir prematur di fase grup.

Di grup itu, Meksiko bisa jadi lawan yang patut diantisipasi Jerman pada laga pertama mereka 17 Juni nanti. Bermodal gaya sepak bola latin yang kental skill menawan El Tri bisa jadi merepotkan pertahanan Jerman. Beruntung pasukan Joachim Loew sudah menakar kekuatan sang lawan setelah menang 4-1 pada semifinal Piala Konfederasi 2017 lalu.

Selain Meksiko, di Grup F juga ada Swedia. Meski ditinggal pensiun Zlatan Ibrahimovic, tim berjuluk Blagult itu malah tampil lebih menakutkan. Terbukti, pada kualifikasi mereka sudah memaksa Belanda gagal lolos ke Piala Dunia untuk kedelapan kalinya. Pada fase playoff giliran Italia yang dipaksa gigit jari.

Sedangkan Korea Selatan secara tradisi sepertinya masih sulit menahan laju Der Panzer. Namun, kedisiplinan dan kerja keras jawara Asia itu bisa jadi membuat pasukan Joachim Loew harus berjuang meraih tiga poin darinya.

Begitulah kira-kira yang bakal terjadi dari dua grup tersebut. Bagaimana dengan grup lainnya? Ah, sulit buat saya melihat potensi turbulensi pada selain dua grup di atas.

 

Harry Kane (kiri) dan Jamie Vardy jadi modal utama Inggris di Rusia nanti.
(Foto: thescottishsun.co.uk)

Kalau pun ada potensi kejutan mungkin itu bisa terjadi di Grup G. Di sana jelas Belgia yang patut jadi unggulan berdasarkan barisan pemain muda yang sedang dalam masa keemasannya.

Lalu, bagaimana dengan Inggris? Layakkah mereka dijagokan? Jika melihat geliat mereka yang tanpa kekalahan dan meraih delapan kemenangan pada kualifikasi, cukup wajar jika The Three Lions mengusung optimisme tinggi.

Tapi, sekedar saran, jangan menaruh harapan terlalu tinggi buat negara yang dipimpin Ratu Elizabeth II itu. Sebab, maaf meski punya nama besar Inggris pantas dicap sebagai tim PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Kisah kegagalan Inggris lolos dari fase grup Piala Dunia 2014 bisa jadi pelajaran berharga. Padahal, kala itu The Three Lions juga datang dengan statistik mentereng sebagai juara grup yang tanpa kekalahan di babak kualifikasi.

So, siapa jagoan Anda pada Piala Dunia 2018 nanti?

KOMENTAR