Hadi Tjahjanto, Pendiam yang Sangat Patuh pada Ibu

Koran SINDO, Yuswantoro · Senin, 04 December 2017 - 21:39 WIB

KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. (Foto: Koran SINDO/dok)

MALANG, iNews.id -  Bambang Sudarto menyambut ramah. Dalam usianya yang sudah menginjak 83 tahun, perawakannya masih tampak tegap. Suaranya tegas. Tampak jelas sisa ketangguhannya sebagai prajurit Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI/TNI AU).

Mengenakan peci hitam, baju batik lengan panjang warna biru dengan gambar motif berbagai jenis pesawat, Bambang duduk di sudut ruang tamu rumahnya yang sederhana, Perumahan Pagas, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. ”Maaf ya menunggu, tadi baru saja pulang dari takziah di rumah tetangga,” katanya santun, Senin (4/12/2017).

Beberada foto menghiasi ruangan tamu berukuran 3x4 meter itu. Salah satunya, pasangan Hadi Tjahjanto dan sang istri, Nanik Istumawati. Hadi, Marsekal TNI yang kini menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) itu merupakan anak pertama dari Bambang Sudarto, dan Nur Saadah, 73.

Hadi menjadi calon tunggal Panglima TNI setelah Presiden Joko Widodo menyerahkan namanya ke DPR. Hadi diplot untuk menggantikan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang segera memasuki masa pensiun.  

Bambang Sudarto dan Nur Saadah (Foto: Koran SINDO/Yuswantoro)

Kabar bahagia itu tentu saja sudah didengar Bambang. “Tadi salah satu anak saya menelepon ke rumah. Mengabarkan kalau baru lihat di televisi bahwa Mas Hadi (Hadi Tjahjanto) menjadi calon Panglima TNI,” ujar Bambang.

Pria yang memasuki masa purna tugas pada 1984 dengan pangkat terakhir Sersan Mayor (Serma) tersebut  mengaku tidak pernah membayangkan anaknya bakal menjadi calon Panglima TNI. Karena itu dia mengaku sangat bangga dan bersyukur. “Semua sudah jalan dari Allah. Kita tinggal menjalankannya dengan ikhlas,” kata dia.

Bambang berharap bila nanti putera sulungnya benar-benar menjabat sebagai Panglima TNI, akan bisa menjalankan tugas dengan baik. “Kami keluarga tentunya bahagia dan menyambutnya dengan doa. Kami juga mengikhlaskan Mas Hadi mengabdikan diri untuk negara ini,” ujarnya.

Dia lantas mengenang, sejak kecil Hadi bersama keempat adiknya, yakni Artiningsih Tjahjanti, Budi Tjahjono, Wahyu Tjahjadi, dan Eni Tjahjani, dididik dalam keluarga prajurit TNI AU yang sederhana. Bambang, merupakan salah satu dari 100 prajurit TNI AU yang mengikuti proyek Pancar Gas (Pagas) pada 1961.

Pagas merupakan proyek prestisius di era kepemimpinan Presiden Soekarno dalam membangun kekuatan AURI. Dibekali pesawat tempur semacam Mig kekuatan pasukan langit Indonesia sangat disegani kala itu.



Sejak lahir Hadi hidup di perumahan Pagas tersebut. Marsekal TNI berkumis lebat itu juga menempuh pendidikan di sekitar perumahan dinas, yaitu TK Angkasa, SD Negeri Tamanharjo, SMP Negeri 3 Singosari, dan SMA Negeri Lawang.

“Anaknya sangat pendiam. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dia juga sangat menurut kepada orang tua. Kalau hobinya dari dahulu olahraga basket,” ujar Bambang, yang asli kelahiran Banyumas, Jawa Tengah ini.

Sejak muda, Hadi bercita-cita sebagai tentara, meneruskan jejak bapaknya. Banyak wejangan yang diberikan Bambang dan Nur Saadah kepada Hadi sebelum benar-benar merealisasikan mimpinya. Wejangan itu agar kelak pria kelahiran 8 November 1963 itu tidak kaget saat menghadapi tes dan pendidikan, serta mengabdikan diri untuk bangsa.

Hadi diterima masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Angkatan Udara (sekarang Akademi Angkatan Udara/AAU) pada 1982. Dia langsung lolos seleksi saat baru berusia 18 tahun. “Waktu itu di Pagas ini ada 25 orang yang mendaftarkan diri. Di kompleks dalam Lanud Abdulrachman Saleh juga ada 25 orang. Yang lolos masuk hanya dua orang, salah satunya anak saya,” kenang Bambang, bangga.


Hadi lulus AKABRI Angkatan Udara pada 1986. Sebagai perwira muda, dia langsung bertugas sebagai penerbang di Skadron Udara 4 Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh Malang. Skadron bersandi Walet ini memiliki tugas menerbangkan pesawat angkut ringan jenis Cassa, yang juga berfungsi sebagai pesawat intai, dan pemetaan udara.

Meski berstatus sebagai perwira dan masuk jajaran penerbang elite TNI AU, Hadi tak banyak berubah.  “Dia tetap saja seperti sebelumnya. Kalau pulang ya makan seadanya di rumah. Kesukaannya makan rujak cingur,” kata Bambang, sambil tersenyum simpul.

Bambang mengenang, Hadi  sangat penurut. Terutama pada ibunya. Bila Nur Saadah sudah memberikan wejangan, pastilah Hadi tidak akan berani membantah, atau berkata apapun. Hadi akan lebih banyak diam dan mengikuti saran ibunya.

Beberapa pekan lalu Hadi pulang kampung, tepatnya pada Jumat, 24 November 2017. Saat itu, Bambang dan istrinya, sebenarnya akan berangkat ke Bali. Setibanya di Bandara Abdulrachman Saleh Malang niat perjalanan dibatalkan. “Saat tiba di bandara ada petugas Provost TNI AU yang memberi tahu kalau KASAU akan ke Malang. Kami akhirnya pulang lagi dan tidak jadi ke Bali,” ungkap Bambang.


Bambang dan istrinya berfirasat anaknya pasti akan pulang ke rumah. Karena itu mereka memilih batal untuk pergi. Benar saja. Dalam berjalan pulang dari bandara, Hadi sudah telepon mengabarkan kalau akan berkunjung ke rumah.

Setiba di rumah orang tuanya, Hadi yang sedang melakukan perjalanan dinas untuk bertemu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Kota Malang. menyempatkan sungkem kepada bapak dan ibunya lantas melaksanakan salat.

Selesai salat  Hadi mengungkapkan apabila ada tanda-tanda akan ditunjuk Presiden mengisi jabatan Panglima TNI. “Saya dan ibunya hanya bisa menasehati agar lebih kuat dan ikhlas dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung-jawabnya. Kalau itu sudah kehendak Allah, ya akan terjadi. Meskipun jalannya terjal, harus disikut, dan dijegal, ya akan tetap terjadi,” kata Bambang.


Editor : Zen Teguh

KOMENTAR

;