AJI : Upah Layak Jurnalis Pemula 2018 di Jakarta Rp7,96 Juta

Ade Miranti Karunia Sari · Minggu, 14 Januari 2018 - 18:34 WIB

AJI merilis upah layak jurnalis pemula 2018 sebesar Rp 7,96 juta. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id- Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) merilis upah layak jurnalis pemula atau fresh graduate untuk tahun 2018 sebesar Rp 7,96 juta. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan upah layak 2016 sebesar Rp 7,54 juta dan 2015 sebesar Rp 6,5 juta.

Secara umum ada kenaikan sedikit upah riil, tapi tetap di bawah standar upah layak. Dari 31 media yang disurvei dan diverifikasi pada Desember 2017, hanya satu media saja yang memberikan upah layak kepada jurnalis pemula sebesar Rp8,7 juta per bulan.

“Mengapa perusahaan media-media besarnya lainnya mengupah lebih kecil, itu perlu ditelusuri lebih lanjut dan semestinya jadi pertanyaan besar jurnalis di masing-masing media,” ujar Ketua AJI Jakarta Ahmad Nurhasim melalui keterangan resminya, di Jakarta, Minggu (14/1/2018).

Upah layak yang dimaksud merupakan take home pay atau gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan yang diterima jurnalis pemula setiap bulan. Sedangkan jurnalis pemula yang dimaksud merupakan reporter yang baru diangkat menjadi jurnalis tetap atau masa kerja tiga tahun pertama.

Namun, bagi jurnalis pemula pada media asing yakni BBC Indonesia dan Reuters justru menerima upah lebih daripada gaji pokok media nasional dengan masing-masing sebesar Rp15 juta dan Rp12 juta tiap bulannya.

Sementara kebanyakan media nasional mengupah jurnalisnya sekitar Rp4 juta. Bahkan, ada juga yang mengupah jurnalis pemulanya masih  di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta pada 2017 sebesar Rp3,35 juta. Adapun UMP DKI Jakarta 2018 pada tahun ini bertambah lagi menjadi Rp3,64 juta.

“Mayoritas responden bekerja lebih dari 8 jam dan tanpa pernah mendapat uang lembur. Artinya, jurnalis dibayar rendah, jam kerja panjang, dan tanpa ada kompensasi apapun atas kelebihan jam kerja,” ujarnya.

AJI Jakarta menyatakan jurnalis yang memperoleh upah secara layak bisa bekerja profesional dan tidak tergoda menerima amplop yang merusak independensi jurnalis dan media. Dengan begitu, upah layak akan meningkatkan mutu produk jurnalisme. Upah kecil kerap menjadi pemicu jurnalis menerima sogokan dari narasumber.

“Ini berbahaya bagi masa depan jurnalisme dan masa depan demokrasi di Indonesia karena berita yang dihasilkan dari jurnalisme amplop berpotensi menjadi racun bagi kebebasan pers,” tandas dia.


Editor : Nanang Wijayanto

KOMENTAR