Ditjen Pajak Pantau Aktivitas Jual Beli di Media Sosial

Ade Miranti Karunia Sari · Rabu, 14 Februari 2018 - 22:53 WIB

Ilustrasi (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id – Direktorat Jenderal Pajak terus menggodok aturan perpajakan untuk jual beli online (e-commerce) bersama dengan Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Otoritas pajak pun mengaku aturan perpajakan yang tengah disusun tersebut tidak akan mengatur secara spesifik soal jual beli di media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Direktur Pelayanan, Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Hestu Yoga Saksama mengatakan, aturan perpajakan akan menyasar aktivitas jual beli di platform marketplace online seperti Tokopedia dan Shopee. Namun, kata dia, hal tersebut tidak berarti bahwa aktivitas jual beli online di media sosial luput dari pengawasan pajak.

"Memang tidak bisa diatur sekaligus, ada karakteristik yang berbeda. Kalau nanti marketplace e-commerce duluan bukan berarti yang media sosial enggak kena, tetap kena cuma mekanismenya tidak seperti marketplace," kata Hestu di Kantor DJP Pusat Jakarta, Rabu (14/2/2018).

BACA JUGA:

idEA Tuntut Jual Beli Online di Media Sosial Dikenakan Pajak

Ini Alasan Pemerintah Tidak Atur Pajak Jual Beli di Media Sosial

Pemerintah Kesulitan Mendeteksi Jual Beli di Media Sosial

Hestu mengatakan, pelaku usaha yang menggelar lapak barang dagangan di media sosial seharusnya melaporkan penghasilan tambahan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak. DJP, lanjut Hestu, terus mengawasi aktivitas jual beli di media sosial

"Kalau jualan di Instagram, ya lapor penghasilannya dari penjualan di situ melalui SPT, dan kami pun secara konsisten tetap melakukan pengawasan terhadap kegiatan usaha atau penjualan yang melalui media sosial tersebut,” katanya.

Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengaku, BPS  kesulitan mendata transaksi di media sosial karena sulit sekali dilacak. Transaksi di marketplace online disebutnya lebih mudah didata daripada transaksi di media sosial.

"Kita belum akan ke sana karena susah untuk menangkapnya. Jadi, sekarang yang formal dulu. Jadi, kalau kita diskusi e-commerce kan ada dua, formal dan informal. Yang formal kayak Lazada, Tokopedia. Yang informal kan ibu-ibu rumah tangga masuk ke Instagram, Facebook," kata Suhariyanto.


Editor : Rahmat Fiansyah

KOMENTAR