Gencar Investasi dan Restrukturisasi, Laba Bersih BTPN Turun 30 Persen

Masirom · Rabu, 14 Februari 2018 - 15:01 WIB

Kiri ke kanan: Direktur BTPN Arief Harris Tandjung, Direktur BTPN Anika Faisal, Direktur Utama BTPN Jerry Ng (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

JAKARTA, iNews.id – PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) membukukan laba bersih sebesar Rp1,2 triliun pada 2017, turun 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Investasi untuk proses transformasi digital dan restrukturisasi organisasi perusahaan menekan perolehan laba bersih BTPN.

Untuk mengembangkan layanan digital, sepanjang 2017 BTPN menginvestasikan dana Rp832 miliar, naik 36 persen dibanding 2016. Adapun biaya restrukturisasi organisasi perusahaan dan operasionalisasi kantor cabang mencapai Rp736 miliar.

“Biaya tersebut sudah termasuk dana yang kami alokasikan bagi karyawan yang mengikuti Program Pengakhiran Kerja Sukarela (PPKS), sebagai one-time restructuring cost,” ujar Direktur Utama BTPN Jerry Ng di Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Tanpa dampak dari investasi strategis dan restrukturisasi perusahaan, menurutnya, laba bersih BTPN dari bisnis inti seharusnya tumbuh 6% menjadi Rp2,4 triliun.

Dia menuturkan, penyaluran kredit di 2017 tumbuh 3 persen menjadi Rp65,3 triliun dari sebelumnya Rp63,2 triliun. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) 0,9 persen. “Pertumbuhan kredit antara lain ditopang oleh penyaluran kredit ke segmen usaha kecil dan menengah yang mencapai Rp11,6 triliun, atau tumbuh 25 persen dari tahun sebelumnya Rp9,3 triliun,” kata Jerry.

Total pendanaan (funding) naik 4 persen dari Rp73,3 triliun menjadi Rp76,5 triliun pada akhir Desember 2017. Dari jumlah itu, komposisi dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 3 persen dari Rp66,2 triliun menjadi Rp67,9 triliun.

Adapun aset BTPN pada akhir Desember 2017 mencapai Rp95,5 triliun naik 5 persen secara tahunan dari Rp91,4 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 24,6 persen.

Proses Merger

Di bagian lain, BPTN terus melakukan kajian terkait proses penggabungan (merger) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI). Manajemen berharap merger akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan ke depan.

Selain lini bisnis SMBCI dan BTPN yang saling melengkapi, merger akan menjadikan bank semakin kuat. “Kita akan menjadi lebih besar dan kuat, mendekati BUKU IV,” ujar Jerry Ng. BUKU IV adalah bank dengan modal inti minimal Rp30 triliun.

Direktur BTPN Anika Faisal mengatakan, perseroan tengah melakukan persiapan teknis untuk proses merger tersebut. BTPN telah menerima surat dari pemegang saham, yakni Sumitomo Mitsui Banking Corporation, pada Kamis 25 Januari 2018.

Menurutnya, merger ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka konsolidasi sektor keuangan, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan memaksimalkan sinergi sektor keuangan di Indonesia. Anika memastikan, semua proses yang dijalankan mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.


KOMENTAR