Harga Naik, Oplos Beras Jadi Pilihan Ibu Rumah Tangga

Catur Edi Purwanto, iNews TV · Sabtu, 13 Januari 2018 - 20:03 WIB

Ilustrasi (Foto: Okezone)

PURBALINGGA, iNews.id - Harga beras di sejumlah pasar tradisional Purbalingga, Jawa Tengah semakin tak terkendali. Kenaikan harga beras bahkan telah terjadi sejak Desember tahun lalu dan banderolnya kini terkerek Rp5.000 per kilogramnya.

Di Pasar Mandiri, Purbalingga, harga beras kualitas medium kini harganya mencapai Rp12.000 per kilogram dari harga sebelumnya sebesar Rp7.000 per kilogram. Sementara, harga beras kualitas premium naik dari Rp9.000 per kilogram menjadi Rp14.000 per kilogram.

Ahmini, salah satu pedagang di Pasar Mandiri menuturkan, kenaikan harga beras sudah terjadi di tempat penggilingan padi. Kenaikan harga itu menyusul pasokan beras yang terus terpangkas tiap harinya.

“(Harga beras) naik terus dari Desember sampai sekarang. Tiap hari naik Rp100. Panen agak kurang karena hama tikus dan wereng, sehingga persediaan berkurang dan harga di penggilingan padi juga sudah naik,” tutur Ahmini, Sabtu (13/1/2018).

Kenaikan harga beras yang semakin tak terkendali juga dikeluhkan konsumen. Bahkan, para ibu rumah tangga terpaksa mencampur beras kualitas baik dengan yang jelek guna mengantisipasi membengkaknya pengeluaran.

Irmawati, seorang ibu rumah tangga saat ditemui di Pasar Mandiri mengaku harus putar otak mengantisipasi lonjakan harga beras saat ini. Ia pun mengakali dengan membeli beras kualitas medium dengan yang biasa sampai fluktuasi harga mereda.

“Paling ya dioplos, dicampur. Kalau soal rasa ya pintar-pintar yang masak saja,” ujar Irmawati.

Para pedagang dan konsumen berharap pemerintah segera mengendalikan harga beras. Sebab, nasi masih menjadi makanan pokok masyarakat.

Sebagai informasi, pemerintah memastikan impor beras khusus sebanyak 500.000 ton dari Vietnam dan Thailand pada akhir Januari nanti dilakukan tanpa menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, impor beras dilakukan dan didistribusikan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) yang bermitra dengan perusahaan beras lain. "Tidak ada dana APBN. Itu pasti. PPI menjadi pintu sehingga kami bisa mengatur. Mereka bisa bermitra dengan pengusaha beras," kata Enggar.

Ia menjelaskan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menugaskan perusahaan BUMN tersebut untuk melakukan impor beras. Mekanisme distribusi beras ke pasaran juga akan dilakukan dengan memakai jaringan PPI.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR