Pasar Cari Keseimbangan, Saham Cenderung Stagnan di Semester I 2018

Ranto Rajagukguk · Minggu, 14 Januari 2018 - 16:24 WIB

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (FOTO: Dok iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Penutupan perdagangan bursa saham Indonesia akhir tahun lalu menorehkan prestasi gemilang. Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatat rekor baru,  yakni bertengger di level 6.355,65.

Riset Bahana Sekuritas menyebut, perbaikan makro ekonomi yang tercermin pada nilai tukar rupiah yang relatif stabil, diiringi dengan penurunan suku bunga acuan serta fiskal yang terjaga, menjadi faktor yang membuat indeks melaju kencang menjelang akhir 2017. Ditambah lagi, berlanjutnya pembangunan infrastruktur serta kenaikan harga komoditas, termasuk batu bara.

Memasuki 2018, Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin mengatakan, pasar saham Indonesia akan mencari keseimbangan meski untuk jangka menengah dan panjang,  pasar saham Indonesia sangat optimistis  karena dukungan bonus demografi. Pemerintah juga masih akan melanjutkan reformasi struktural.

''Tahun ini pasar akan mencari keseimbangan antara stabilitas makro ekonomi yang terjaga dengan beberapa faktor risiko yang membayangi, yakni tren kenaikan harga minyak dunia, perhelatan pilkada serentak di dalam negeri serta kebijakan investasi pemerintah China,'' kata Andri  dalam keterangan tertulis yang diterima iNews.id, di Jakarta, Minggu (14/1/2018).

Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian investor tahun ini, antara lain kebijakan pemerintah China yang ingin mengurangi investasi langsungnya di luar negeri dalam waktu dekat, termasuk di ASEAN. Ini bisa berakibat pada perlambatan ekonomi domestik lantaran investasi menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia.

Selanjutnya tren kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada pada kisaran 66 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, lebih tinggi dari asumsi harga minyak dunia yang ditetapkan dalam APBN 2018 sebesar 48 dolar AS per barel. Ini akan berpengaruh terhadap defisit transaksi berjalan bila tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau bakal menimbulkan inflasi bila harga BBM subsidi naik.

Kondisi politik di dalam negeri yang akan menghadapi pilkada serentak serta Pilpres 2019 akan menjadi faktor penentu bagi investor, khususnya saat proses pilkada sedang berlangsung hingga hasil akhirnya. Bila semuanya berjalan transparan dan hasilnya sesuai ekspektasi pasar, pilkada akan berdampak positif.

Faktor positif yang akan mewarnai pasar dan perekonomian sepanjang 2018, antara lain berlanjutnya belanja infrastruktur, dana subsidi untuk sosial serta dana-dana kampanye yang biasanya meningkat menjelang pilkada serta pilpres akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Ditambah lagi harga komoditas global yang meningkat khususnya harga batu bara akan memberi multiplier effect terhadap perekonomian.

''Dengan melihat beberapa faktor positif dan risiko yang perlu dicermati, indeks diperkirakan tidak banyak bergerak pada semester pertama tahun ini. Namun,  pada semester kedua baru akan terlihat pergerakan yang tergantung pada proses dan hasil pilkada serta menanti langkah yang akan diambil pemerintah untuk menyelamatkan anggaran 2018," ujar Andri. Bahana memperkirakan indeks berada pada kisaran 7.000 sepanjang 2018.


KOMENTAR