Perkuat Pasar Obligasi, OJK Dukung Market Standard untuk Repo

Isna Rifka Sri Rahayu · Jumat, 12 Januari 2018 - 13:23 WIB

Ketua Himdasun Farida Thamrin (ketiga dari kiri), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (keempat dari kiri), dan Direktur Utama BEI Tito Sulistio (paling kanan) saat launching penerbitan 'market standard' untuk transaksi repo di pasar obligasi di Jakarta, Jumat (12/1/2018).

JAKARTA, iNews.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung langkah Perhimpunan Pedagang Surat Utang (Himdasun) yang menerbitkan ‘market standard’ untuk transaksi Repurchase Agreement (Repo) atas Efek Bersifat Utang.

"Launching ‘market standard’ untuk Transaksi Repo atas Efek Bersifat Utang merupakan buah koordinasi antara Himdasun dan OJK. Kami, OJK, dan Bank Indonesia akan melakukan sosialisasi pada para pelaku pasar terkait ‘market standard’ ini," kata Ketua Himdasun Farida Thamrin di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Farida mengatakan, penerbitan ‘market standard’ ini untuk memberikan acuan dan pedoman dalam bertransaksi repo, memperdalam pasar keuangan, dan meningkatkan profesionalisme pelaku pasar. Acuan itu disusun oleh Himdasun dan disepakati oleh para anggota sesuai dengan ketentuan Peraturan OJK 09/POJK.O4/2015 yang mensyaratkan penggunaan dokumen Global Master Repurchase Agreement (GMRA) dalam pelaksanaan transaksi repo atau reverse repo yang dilakukan oleh Lembaga Jasa Keuangan (LJK).

Sementara itu, OJK berharap ‘market standard’ ini bisa mengintegrasikan pasar obligasi dengan pasar repo di Indonesia. Dengan demikian, pasar modal semakin kuat dan menjadi alternatif sumber pembiayaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pinjaman bank.

"Market standard ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang sama antar pelaku pasar atas transaksi repo sehingga dapat meningkatkan profesionalisme, integritas dan kepercayaan antar pelaku pasar, serta mengurangi risiko sistemik di sektor jasa keuangan," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di kesempatan yang sama.

Sepanjang 2017, perkembangan pasar modal khususnya di sektor pasar surat utang menunjukkan tren peningkatan yang positif. Hal ini terlihat dari kenaikan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) sebesar 34,53 basis poin (bps) selama periode 2017 dari 208,45 per Desember 2016 menjadi 242,98 pada Desember 2017. 

Kenaikan ini juga didorong iklim investasi yang semakin kondusif dan peningkatan rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat seperti Standard and Poor’s (S&P) dan Fitch yang berdampak pada kepercayaan investor asing untuk masuk ke pasar surat utang yang pada akhirnya mendorong penurunan yield

Rata-rata yield obligasi pemerintah telah turun sebesar 140,97 bps menjadi 6,69 persen pada tahun kemarin. Begitu pula dengan rata-rata yield obligasi korporasi rating A juga turun 165,15 bps menjadi 9,07 persen. Selain itu, Peningkatan kinerja pasar obligasi juga tercermin dari kenaikan rata-rata harian nilai transaksi obligasi sebesar 5,89 persen dan Rp15,77 triliun pada 2016 menjadi Rp16,70 triliun di 2017.

Likuiditas transaksi yang meningkat ini turut menopang peningkatan aktivitas transaksi repo. Tercatat, total transaksi repo selama 2017 naik sebesar Rp42,04 triliun dari Rp263,17 triliun pada 2016 menjadi Rp305,21 triliun di 2017. Rata-rata harian nilai transaksi repo juga mengalami kenaikan dari Rp 1,10 triliun menjadi Rp1,28 triliun.

"Semoga peluncuran 'market standard' transaksi repo itu akan diikuti dengan adanya penerbitan 'market standard' transaksi repo atas efek bersifat ekuitas," tutur Hosen.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR