Film Dua Mawar Merah Resmi Diputar Perdana Hari Ini

Nanang Wijayanto · Kamis, 15 Februari 2018 - 18:30 WIB

Konferensi pers pemutaran film perdana Dua Mawar Merah. (Foto: Dua Mawar Merah)

JAKARTA, iNews.id-  Film dokumenter Dua Mawar Merah yang menggambarkan awal berdirinya Sekolah Darurat Kartini diputar perdana di Cinema XXI Grand Metropolitan Kamis (15/2/2018) secara terbatas.

Turut hadir dalam pemutaran film ini pejabat dari Kementerian Sosial RI dan Muspida Kota Bekasi. Pemutaran perdana film ini didukung penuh oleh PT Metropolitan Land Tbk (Metland) melalui Yayasan Metropolitan Peduli (YMP).

Sejak tahun 2002 YMP dan Sekolah Darurat Kartini banyak terlibat kerjasama dalam kegiatan sosial. “Dukungan ini merupakan apresiasi kami atas dedikasi Ibu Guru Kembar selama 28 tahun mengelola Sekolah Darurat Kartini,” ungkap Wahyu Sulistio Direktur PT Metropolitan Land Tbk dalam keterangan resmi yang diterima iNews.id, Kamis (15/2/2018).

“Kegiatan ini juga kami jadikan momen untuk merayakan ulang tahun Metland Ke-24 tahun,” imbuh Wahyu.

Sutradara film Dua Mawar Merah Adjat Wiratma mengatakan film ini diproduksi oleh Akademi Indonesia secara gratis.

“Kalau sudah melihat film ini, masyarakat akan tahu bawah banyak tugas yang harus sama-sama diselesaikan, yakni persoalan kemiskinan dan kebodohan,” ujar Adjat.

“Film ini kaya dengan pelajaran hidup, kaya kritik sosial yang sangat relevan dengan permasalah yang terjadi saat ini” tambahnya.

Dia mengatakan, film ini ingin mengetuk pintu hati penonton untuk lebih peduli pada kehidupan masyarakat sekitarnya. Proses pembuatan film ini melalui peran sutradara untuk melatih mahasiswa supaya menghasilkan karya.

Video-video rekaman yang dihasilkan mahasiswa kemudian disusun, lalu dibuat benang merah sehingga menjadi satu rangkaian cerita perjalanan perjuangan Ibu Guru Kembar dan Sekolah Darurat Kartini.

“Kami kampus gratis, tapi harus tetap berkualitas” ujarnya.

Rencananya, film Dua Mawar Merah ini akan ditayangkan dalam kegiatan kemasyarakatan di setiap daerah di Indonesia.Selain itu, Akademi Indonesia juga membuka kerjasama dengan kampus-kampus yang ingin menayangkan film ini.

Seperi diketahui, film ini bercerita tentang Ibu Guru Kembar, Sri Rosyati (Rossy) dan Sri Irianingsih (Rian) mendirikan Sekolah Darurat Kartini pada tahun 1990 hingga sekarang.

Murid yang bersekolah merupakan  kaum marjinal, yakni anak-anak usia PAUD hingga SMA yang berasal dari keluarga miskin ibukota.

Perjalanan pengelolaan Sekolah Darurat Kartini tidaklah mudah, banyak tantangan yang dihadapi. Sekalipun niat kedua Guru itu mulia, berkorban pikiran, harta dan tenaga, namun tak jarang keduanya harus berhadapan dengan kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak berkeadilan.

Sekolah yang pernah berdiri di lima tempat itu, sudah beberapa kali digusur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, usaha Ibu Guru Kembar dalam mengabdikan diri pada dunia pendidikan tidak surut.  Mereka berusaha mempertahankan pelayanan pendidikan bagi anak warga miskin.

Sekolah yang awalnya berada di kolong tol dan pinggir rel kereta api itu hingga kini masih berdiri. Ada ratusan anak yang masih menjadi muridnya. Bagi Ibu Guru Kembar, apa yang dilakukannya saat ini adalah bagian dari mencari Ridho Allah SWT.

Kehadiran anak-anak adalah rezeki yang patut disyukuri. Meski tidak mudah dan tidak murah, namun mereka ikhlas.

“Tidak berbagi sangat merugi hidup dunia,” itulah kata yang kerap Rossy dan Rian ungkapkan.

“Jangan dihitung bila berbagi, jangan minta kembali kalau memberi,” tuturnya.


Editor : Nanang Wijayanto

KOMENTAR