Seram, Difteri Bisa Timbulkan Racun Mematikan

Siska Permata Sari · Jumat, 12 Januari 2018 - 17:21 WIB

Menkes Nila Moeloek menegaskan pentingnya imunisasi difteri. (Foto: iNews.id/Siska Permata Sari)

JAKARTA, iNews.id - Sepanjang 2017, Indonesia dihebohkan dengan penyakit difteri yang mewabah di sejumlah wilayah. Ada 954 kasus difteri di Indonesia, bahkan 44 di antaranya meninggal.

Meski memasuki awal tahun ini kasus difteri cenderung menurun, yakni ada 14 kasus yang dilaporkan dan tak ada kasus meninggal. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menekankan, pentingnya imunisasi difteri bagi segenap masyarakat Indonesia.

"Difteri tak cuma terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai dunia, misalnya India dan Bangladesh. Gejalanya demam, khasnya itu sakit di kerongkongan dan ada selaput putih, yang jika dicongkel berdarah," papar Menkes RI Nila Moeloek, ditemui iNews.id dalam Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Difteri ini, sambung dia, mengandung kuman atau bakteri yang mengeluarkan racun yang bisa membuat jantung berhenti.

Pernyataan serupa juga diungkapkan Sekretaris Satgas Imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Soedjatmiko yang hadir dalam forum tersebut. Ia mengatakan, saluran putih yang khas pada difteri bisa menyebabkan anak-anak hingga orang dewasa meninggal.

"Penyakit difteri sangat berbahaya. Benar, kalau (difteri) bersarang di kerongkongan, mengeluarkan racun dan merusak jantung. Membran putih pada kerongkongan dapat menyumbat saluran napas," jelas Soedjatmiko.

Racun tersebut, sambung dia, dapat menyebarkan dan menyerang otot jantung. "Minggu kedua, jantungnya bisa rusak," ucapnya.

Sebab itu, Menkes Nila menegaskan sekali lagi pentingnya melakukan imunisasi.

"Memang kemeng dan panas adalah reaksi wajar dari vaksinasi. Maka kami mengimbau warga yang belum divaksin, segera melakukan vaksin," jelasnya.

Ada berbagai jenis vaksin difteri, di antaranya vaksin difteri tetanus (DT) untuk usia lima hingga tujuh tahun, vaksin tetanus difteri (Td) untuk usia di atas tujuh tahun. Kemudian ada lagi vaksin Difteri-Tetanus-Pertusis-Hepatitis B-Haemophylus Influenza Type B (DTP-Hb-Hib) bagi usia satu hingga lima tahun.


Editor : Tuty Ocktaviany

KOMENTAR