Waspada, Bekerja Lebih dari 8 Jam Sehari Dapat Membunuh Anda

Siska Permata Sari · Minggu, 14 Januari 2018 - 12:12 WIB

Kelelahan bekerja. (Foto: Moneygossips)

JAKARTA, iNews.id – Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik bagi kesehatan, termasuk bekerja lebih dari delapan jam. Apa dampak buruknya?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Epidemiology menunjukkan, stres, tekanan darah meningkat, dan diet tidak sehat berasal dari jam kerja yang panjang.

Melansir dari Forbes, Minggu (14/1/2018), studi tersebut menggabungkan hasil penelitian yang berbeda selama 50 tahun terakhir dan menemukan bahwa menghabiskan waktu terlalu lama di kantor, berpotensi 40 sampai 80 persen lebih banyak terkena penyakit jantung. Berbeda dengan orang yang bekerja selama delapan jam sehari.

Bahkan, riset terakhir yang ditemukan oleh para ilmuwan di Finlandia mengenai hasil survei di Inggris tahun 2011 mengungkapkan, melakukan aktivitas lebih dari 11 jam sehari bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 67 persen.

Sementara itu, sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh Kelley School of Business dari Indiana University juga menemukan, mereka yang bekerja dalam tekanan tinggi dengan kontrol rendah, memungkinkan meninggal lebih dini daripada sebaliknya dan menemukan keseimbangan dalam pekerjaan mereka.

"Kami mengeksplorasi tuntutan atau jumlah pekerjaan, tekanan waktu, tuntutan konsentrasi, kontrol pekerjaan, atau jumlah kebijaksanaan yang dimiliki seseorang untuk membuat keputusan di tempat kerja sebagai prediktor korelasi dengan kematian," tulis pemimpin penelitian sekaligus penulis Erik Gonzalez-Mule, seperti dikutip dari Fast Company.

Temuan ini, kata Erik, menunjukkan bahwa pekerjaan yang penuh tekanan, memiliki konsekuensi negatif yang nyata bagi kesehatan karyawan ketika dipasangkan dengan kebebasan atau kontrol yang rendah dalam pengambilan keputusan.

"Sementara pekerjaan yang penuh tekanan, benar-benar dapat bermanfaat bagi kesehatan karyawan jika dipasangkan dengan kebebasan dalam pengambilan keputusan," ucapnya.


Editor : Tuty Ocktaviany

KOMENTAR