Pertemuan Korsel-Korut

4 Fakta Tempat Pertemuan Korut-Korsel, Lokasi Favorit untuk Membelot

Nathania Riris Michico · Rabu, 10 Januari 2018 - 06:05 WIB

The Peace House, salah satu bangunan yang berada di Panmunjom (Foto: The Strait Times)

PANMUNJOM, iNews.id - Desa kecil di Korea Selatan (Korsel) Panmunjom mendadak menjadi sorotan dunia. Pasalnya, desa ini menjadi lokasi bersejarah pertemuan delegasi Korea Utara (Korut) dan Korsel untuk pertama kalinya sejak 2015.

Letak Desa Panmunjom tepat berada di perbatasan. Setelah kedua gegara menyepakati gencatan senjata pada 1953, Panmunjom ditunjuk sebagai tempat bertemunya para pejabat dari kedua belah pihak.

Tempat ini juga merupakan perbatasan terakhir di mana tentara kedua negara berhadapan muka saat Perang Dingin.

Menyisakan banyak sejarah, seperti diberitakan, The Strait Times, Rabu (10/1/2018), inilah beberapa fakta mengenai Panmunjom, desa yang juga dikenal sebagai Joint Security Area.

1. Tempat Tak Bertuan

Baik Korea Utara maupun Korea Selatan memiliki kekuasaan atas Panmunjom. Desa ini berada dalam Zona Demiliterisasi (DMZ) sepanjang 6,4 kilometer sekaligus sebagai perbatasan de facto antara kedua Korea. Jalan utama menuju zona tersebut dilapisi pagar kawat berduri dan menara pengawas keamanan.

Diketahui tidak ada warga yang menghuni zona ini.

Panmunjom berada 50 km sebelah utara Seoul dan 10 km sebelah timur Gaeseong, sebuah kota yang sekarang di bawah kekuasaan Korut. Pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengelola lokasi ini.

Gencatan Senjata Korea yang ditandatangani di Panmunjom membagi semenanjung Korea menjadi dua wilayah. Korea secara teknis masih berperang tanpa adanya perjanjian damai formal.


2. Hot Spot untuk Para Pembelot

Panmunjom menjadi saksi bisu sejumlah aksi pembelotan tentara Korut. Pada November lalu, seorang tentara menyeberangi perbatasan. Pasukan penjaga perbatasan menembaki pelaku untuk membunuhnya. Namun dia bisa, meski ditemukan enam luka tembak di tubuhnya.

Selain itu, pembelotan juga pernah terjadi di Panmunjom pada 1984 ketika seorang siswa Rusia dari Moskow berlari melintasi perbatasan dan memicu baku tembak selama 30 menit. Insiden ini menyebabkan empat orang tewas, meskipun siswa tersebut tidak terluka.

Rentetan kejadian itu mengubah cara tentara bergerak di sekitar zona ini. Sebelum serangan tersebut, mereka bisa menyeberang garis perbatasan, namun demi menghindari serangan, masing-masing pasukan harus tetap berada di wilayahnya sendiri.


3. Lokasi Wisata Populer

Selama bertahun-tahun, Panmunjom telah berubah menjadi tujuan wisata karena lokasinya punya daya tarik untuk dikunjungi.

Wisatawan dari Korsel biasanya diberi peringatan agar tidak melakukan tindakan yang dapat memancing tentara Korut, salah satunya mengambil foto di beberapa titik.

Dalam situs resminya, pakaian yang dilarang untuk dipakai saat berwisata di zona adalah celana jins robek, seragam, kaus, celana pendek, rok mini, dan pakaian lainnya. Untuk berwisata di sana dikenakan Biaya tur sekitar 65.000 hingga 85.000 won per orang.

"Sangat menyedihkan sebuah negara terbelah," kata kata salah seorang pelajar dari New York, Julia Ahn (24), dalam sebuah perjalanan ke Panmunjom.


Pihak Korut juga diperbolehkan membawa wisatawan ke lokasi. Tur Korut dilaporkan dilakukan dengan cara yang lebih santai dibandingkan dengan Korsel.

Wisatawan dari Korut dapat berkeliling mengenakan pakaian liburan yang santai, hingga selfie bersama dengan tentara.

4. Tempat Pemimpin Negara Membuat Pernyataan

Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengunjungi Korsel dan mengunjungi DMZ bisa diartikan sebagai dukungan simbolis komitmen AS untuk membela Seoul.

Tapi cuaca buruk memaksa Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungannya ke DMZ pada November 2017. Kunjungan ini tadinya bersifat 'kejutan' ini akhirnya gagal terlaksana.

Pemimpin Korut Kim Jong Un melakukan perjalanan langka menuju ke Panmunjom pada 2012. Dalam kunjungannya tersebut,  di tengah ketegangan yang meningkat, media pemerintah mengabadikan momen ketika Kim berjalan ke seberang perbatasan di bagian Selatan.


Editor : Anton Suhartono

KOMENTAR