Kasus BLBI, KPK Perpanjang Penahanan Syafruddin 30 Hari

Felldy Utama · Kamis, 15 Februari 2018 - 18:01 WIB

Mantan Kepala BPPN Syafruddin Arsyad Temenggung ditahan KPK. (Foto: Okezone/Arie Dwi)

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan perpanjangan penahanan selama 30 hari ke depan terhadap mantan kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung.

Syafruddin ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait ‎penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada 25 April 2017. Syafruddin dianggap bertanggung jawab dalam kasus dugaan korupsi penerbitan SKL BLBI untuk Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) milik pengusaha Sjamsul Nursalim.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan bahwa pada hari ini KPK melakukan perpanjangan penahanan selama 30 hari kepada tersangka Syafruddin. "Hari ini dilakukan perpanjangan penahanan selama 30 hari, 19 Februari 2018 sampai dengan 20 maret 2018 untuk tersangka SAT," Ujar Febri melalui pesan singkat, Kamis (15/2/2018).

BACA JUGA:

Dugaan Korupsi BLBI, KPK Tahan Mantan Kepala BPPN

KPK Berjanji Akan Tuntaskan Semua Kasus Megakorupsi

Sebelumnya, KPK juga melakukan perpanjangan penahanan selama 40 hari kepada Syafruddin. Terhitung dimulai pada tanggal 9 Januari 2018 sampai dengan 18 Februari 2018. Dalam kasus ini, Syafruddin diduga menyalahgunakan kewenangan mengenai penerbitan SKL BLBI untuk BDNI sehingga merugikan negara sekitar Rp4,58 triliun.

BDNI merupakan salah satu yang mendapat SKL BLBI senilai Rp27,4 triliun. Surat lunas tersebut terbit pada April 2004 dengan aset yang diserahkan di antaranya PT Dipasena (laku Rp2,3 triliun) dan GT Petrochem dan GT Tire (laku Rp1,83 triliun).

Syafruddin ditahan pada Kamis (21/12/2017), seusai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Dia dijerat pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengakui, salah satu kasus megakorupsi yang memakan waktu lama adalah kasus korupsi BLBI. Selian itu, kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto, kasus pemberian dana talangan untuk Bank Century, dan kasus Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II dengan tersangka Richard Joost Lino.


Editor : Azhar Azis

KOMENTAR