Mantan Kurir Setnov Gaji Rp4 Juta Bisa Transaksi Miliaran

Richard Andika Sasamu · Kamis, 15 Februari 2018 - 15:38 WIB

Sidang perkara dugaan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto. (Foto:iNews.id/Richard Andika Sasamu).

JAKARTA, iNews.id - Jaksa Penuntut Umum pada KPK mencurigai adanya upaya pencucian oleh terdakwa perkara dugaan korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto atau dikenal Setnov. Jaksa KPK menduga upaya tersebut dilakukan melalui rekening mantan kurir Setnov, Abdullah.

Jaksa heran dengan transaksi keuangan Abdullah yang mencapai miliaran rupiah. Padahal, gaji Abdullah per bulan hanya Rp4 juta.

"Anda dengan gaji Rp4 juta, bisa kirim uang Rp1 miliar setor tunai ke rekening Kartika Wulansari?" tanya jaksa kepada Abdullah yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Abdullah kemudian hanya mengiyakan. Dia menyebut pernah diminta melakukan transaksi bernilai besar oleh mantan sekretaris Setnov, Kartika Wulansari. Abdullah menuturkan, pernah diminta Wulan untuk tarik tunai, mencairkan deposito, cek dan membuka rekening.

Kemudian jaksa menanyakan, uang itu milik siapa, karena ada transaksi yang pernah dilakukan Abdullah, termasuk mencairkan cek PT Murakabi senilai Rp6 miliar pada 2009. Pertanyaan itu berlanjut untuk mengetahui milik siapa uang yang ada di dalam rekening milik Abdullah. Sebab, menjadi pertanyaan besar ketika Setnov menyimpan uang justru di rekening Abdullah dan Wulan.

"Uangnya Pak Novanto Pak. Kalau di rekening saya bukan nyimpan. Jadi saya mencairkan, Pak Novanto minta transfer ke sana ke mari. Kan suka ada sisanya itu Rp200-300 juta. Dari pada saya bawa naik motor lebih baik saya tampung dulu," kata Abdullah.

BACA JUGA: Sidang E-KTP, Saksi Ungkap Ada Uang Dedemit

Jaksa KPK juga merasa heran dengan pembukuan transaksi sekretaris Setnov yang tidak masuk akal karena mengendap dengan jumlah yang banyak. Sebab, sebagai kapasitasnya dinilai janggal seorang sekretaris mempunyai uang yang banyak. Dia berpendapat bahwa transaksi itu merupakan pencucian uang.

"Ini saya pegang rekening koran saudara, saya pusing bacanya ini. Saya kok malah mencium bau-bau pencucian uang ini sepertinya," kata jaksa.


Editor : Kurnia Illahi

KOMENTAR