Panglima TNI: Ancaman ke Depan Bersifat Asimetris, Proxy dan Hibrida

Tri Hatnanto · Kamis, 15 Februari 2018 - 20:28 WIB

Kasum TNI Laksdya TNI Didit Heriawan mewakili Panglima TNI dalam acara Rakor Komlek TNI, Kamis (15/2/2018). (Foto: Puspen TNI).

JAKARTA, iNews.id - Ancaman terhadap suatu negara secara konvensional berupa perang terbuka antarnegara semakin tipis karena dihadapkan pada biaya sangat besar. Ancaman nyata di masa mendatang adalah ancaman yang bersifat asimetris, proxy, dan hibrida dengan memanfaatkan teknologi.

Pesan ini diutarakan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kasum TNI Laksamana Madya TNI Didit Herdiawan pada acara pembukaan Rakor Komlek TNI 2018 di Aula Gatot Subroto Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (15/2/2018).

Menurut Panglima, perkembangan teknologi tidak hanya memberikan kemudahan bagi manusia, tetapi juga memungkinkan munculnya kerawanan-kerawanan dari meluasnya pemanfaatan sharing data dan informasi, serta terhubungnya berbagai sistem yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Konektivitas tersebut rawan terhadap ancaman baru seperti pencurian identitas, gangguan sistem, pengambilalihan kendali sampai pada penghancuran sistem sendiri, bahkan perkembangan terorisme global memanfaatkan digital profiling untuk merekrut sel-sel baru dan terpisah sebagai lone wolf,” ungkap Panglima dalam siaran pers yang diterima iNews.id.

Kasum TNI Laksdya TNI Didit Herdiawan. (Foto: Puspen TNI)

Marsekal Hadi juga mengingatkan bahwa pada pelaksanaan kampanye pilkada dan pilpres kemungkinan diwarnai berbagai isu negatif termasuk hoax melalui media sosial. “Untuk itu, perbantuan sarana komunikasi elektronik (komlek) menjadi sangat penting sebagai dasar dalam pengerahan kekuatan TNI,” katanya.

Menurut Panglima, tidak menutup kemungkinan hal ini dapat berkembang menjadi tindakan-tindakan yang lebih ekstrem atau bahkan merusak, dengan memanfaatkan isu kesenjangan yang diolah menjadi radikalisme, ekstrimisme, dan populisme.

Mantan KSAU ini berharap, dengan kondisi ancaman yang semakin kompleks tersebut TNI dituntut mampu mengikuti perkembangan teknologi yang mendukung pelaksanaan tugas, terutama teknologi kemiliteran yang diintegrasikan dengan kemampuan Network Centric Warfare (NCW) ditunjang dengan Command, Control, Communication, Computer, Intellegence, Surveilance, and Reconnaisance (C4ISR) dan kemampuan cyber warfare.

BACA JUGA: TNI-Bea dan Cukai Kerja Sama Tangkal Penyelundupan

“Mengingat peralatan NCW dan cyber warfare berkembang relatif cepat dibanding alutsista jenis lain, TNI dalam hal ini komunitas Komlek perlu mengantisipasi model dan mekanisme pengadaan, pemeliharaan dan perawatan, serta peningkatan fungsi peralatan NCW dan siber secara berkala dan berkelanjutan,” tutur Panglima.

Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Inf Bedali Harefa menerangkan, Rakor Komlek TNI 2018 diikuti 116 orang dengan mengangkat tema “Dengan Dilandasi Jiwa Ksatria, Militan, Loyalitas, Profesional dan Modern Kita Tingkatkan Interoperabilitas Komlek TNI Dalam Rangka Mendukung Tugas Pokok TNI”.


Editor : Zen Teguh

KOMENTAR