Sejarah Imlek, Peristiwa Budaya Bukan Agama

Kurnia Illahi · Kamis, 15 Februari 2018 - 17:09 WIB

Masyarakat Tionghoa sambut perayaan Imlek. (Foto: Koran Sindo).

JAKARTA, iNews.id - Tahun baru Imlek atau Sincia sebenarnya perayaan para masyarakat petani dalam menyambut musim semi atau menanam. Dalam perayaan ini sangat erat kaitannya dengan ekologi dan kehidupan.

Maka itu setiap perayaan Imlek biasanya dibarengi dengan musim hujan. Bagi yang mempercayainya, semakin sering diguyur hujan dalam perayaan Imlek itu semakin membawa keberuntungan, karena mereka notabene adalah para petani.

Dalam perayaan Imlek mereka yang mepercayainya harus survive dengan memaksimalkan semua basis persiapan untuk bekerja dan menghasilkan produktivitas yang maksimal. Atas dasar itu dalam perayaan Imlek yang ditonjolkan adalah semua ornamen dan aktivitas yang melambangkan keselamatan di masa depan. Misalnya, ada pertunjukan lang liong atau tari naga, barongsai, bakar petasan yang dipercayai bisa menolak bala.

“Dalam sejarahnya tahun Sincia atau tahun baru Imlek itu tradisi siap bekerja keras,” ujar sejarawan, JJ Rizal dalam acara iNews Pagu Super Sunday.

Perayaan Imlek juga bukan peristiwa agama, namun tepatnya adalah peristiwa budaya. Dalam perayaan ini bukan diikuti oleh etnis Tionghoa saja, namun masyarakat pribumi di Indonesia maupun masyarakat keturunan luar negeri dari eropa yang tinggal di Indonesia juga ikut merayakannya.

Sejak 1837 ada perayaan besar-besaran tahun baru Imlek di Batavia yang diprakarsai oleh Mayor Tan Engguan. Pusat perayaannya diselenggarakan di Tongkonan, yaitu daerah Pancoran. Dalam perayaan itu diselenggarakan pasar malam besar-besaran yang dikunjungi oleh masyarakat Tionghoa masyarakat pribumi maupun masyarakat keturunan Belanda.

 

 

Pada perayaan itu mereka juga bisa melihat pertunjukan berbagai budaya. Mulai dari budaya Tionghoa, hingga budaya yang berasal dari eropa. Misalnya, Tanjidor yang merupakan brush band eropa. Dalam perayaan itu juga dipertunjukkan gambang kromong.

Merayakan Imlek harus dengan suasana hati senang dengan membuang semua beban, karena beban dipercayai bagian dari kesialan. Salah satu cara membuang beban itu mereka dengan bergaya yang aneh-aneh. Misalnya, dahulu dalam perayaan itu laki-laki berpakaian seperti wanita dan harus menemukan tujuh jembatan disertai membuang buah semangka.

Bertepatan dengan perayaan Imlek juga menjadi momentum bagi pasangan kekasih untuk bertemu karena era itu pasangan kekasih dilarang untuk bertemu langsung. Pada Imlek inilah mereka bertemu untuk melihat masing-masing pasangannya dengan membuat janji terlebih dahulu melalui orang tua wanita.

Menyambut perayaan Imlek pada era itu sama seperti menyambut lebaran. Di mana para pemilik rumah sibuk membersihkan dan memperindah rumah masing-masing. Misalnya menyapu dan mengecat rumah dengan kapur yang dipercayai bisa mepertahankan rezeki. Setiap rumah juga biasanya tersaji makanan yang dipercaya bisa mebawa kebaikan. Misalnya, mie panjang umur dan kue keranjang yang dipercayai bisa membuat hati tetap lengket dengan pasangan.

Perayaan Imlek di Indonesia juga diramaikan dengan tradisi ikan bandeng. Padahal di negeri asalnya (Tionghoa) tidak ada tradisi ikan bandeng. Tradisi ini juga diikuti oleh masyarakat pribumi. Bagi masyarakat pribumi dianggap tidak sopan jika berkunjung ke rumah mertua tanpa membawa ikan bandeng. Biasanya, oleh masyarakat pribumi ikan bandeng tersebut diolah sebagai santapan makan, seperti masak pindang.

Tradisi lainnya yang ikut mewarnai Imlek, yaitu jeruk mandarin. Warna oranye yang cerah diibaratkan sebagai lambang emas dengan makna rezeki. Dalam sejarahnya, jeruk mandarin disajikan kepada para pejabat China. Dalam bahasa mandarin jeruk disebut sebagai buah pembawa rezeki, karena terdiri dari dua kata, yaitu chi yang berarti rezeki dan zhe yang berarti buah.

Imlek 2018 ini merupakan tahun 2569 atau tahun Anjing Tanah yang dimulai 16 Februari 2018 hingga 4 Februari 2019. Bagi masyarakat Tionghoa, Tahun Anjing Tanah perlu diwaspadai karena menurut fengshui, pergantian tahun pada penanggalan Tionghoa jadi penanda berubahnya energi yang memengaruhi tempat tinggal pemilik shio tertentu.

 

 


Editor : Kurnia Illahi

KOMENTAR