Setnov Sebut Uang di Rekening Sekretaris untuk Bayar Cicilan Apartemen

Richard Andika Sasamu · Kamis, 15 Februari 2018 - 19:47 WIB

Sidang lanjutan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (15/2/2018). (Foto: iNews.id/Richard Andika Sasamu)

JAKARTA, iNews.id - Terdakwa kasus dugaan korupsi proyek e-KTP Setya Novanto (Setnov) menanggapi kecurigaan jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal transaksi terputar-putar yang dilakukan antara mantan sekretarisnya, Kartika Wulansari dan mantan kurirnya, Abdullah. Setnov mengaku bisa menjelaskan transaksi tersebut.

Pada sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, dia menjamin uang tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Pernyataan ini untuk menepis tuduhan pencucian uang yang dilakukannya.

"Mengenai pembukaan rekening saya clear-kan, saya tidak mengetahui rekening atas nama Pak Abdullah. Bahwa deposito itu memang selalu dicairkan jatuh tempo terus dimasukkan kembali ke rekening (sekretaris) itu, tapi bisa saya pertanggungjawaban sumber-sumberya bukan hasil kejahatan atau e-KTP," ungkap Setnov menanggapi keterangan Abdullah yang bersaksi dalam persidangannya, Kamis (15/2/2018).

BACA JUGA: Mantan Kurir Setnov Gaji Rp4 Juta Bisa Transaksi Miliaran

Setnov mengatakan, deposito miliknya sudah dilaporkan ke KPK untuk dicatat di Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) dan tax amnesty. "Semuanya sudah dibayar pajaknya. Selain tau dari fotokopi berkas itu saya yang bayar. Kalau enggak salah, saya yang bayar tax amnesty-nya," kata Setnov.

Selain itu, mantan Ketua DPR itu mengaku bahwa uang miliknya yang tercatat dalam transaksi antara Abdullah dan Wulan adalah untuk pembayaran cicilan apartemen anaknya di Amerika Serikat. Dia mengaku meminta tolong untuk menitipkan uangnya melalui Wulan.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum Abdul Basir merasa heran dengan gaji Abdullah yang hanya Rp4 juta tapi bisa melakukan transaksi bernilai miliaran rupiah. Karena itu, tim jaksa KPK mencium adanya dugaan upaya pencucian uang yang dilakukan Novanto.

Basir juga merasa heran dengan pembukuan transaksi sekretaris Setnov, Kartika Wulansari, yang tak masuk akal karena mengendap dengan nilai luar biasa. Dengan kapasitasnya, rekening Wulan dinilai sangat janggal.


Editor : Zen Teguh

KOMENTAR