Astronot Bisa Derita Demam Luar Angkasa, Ini Penjelasannya

Dini Listiyani · Rabu, 10 Januari 2018 - 10:10 WIB

Astronot NASA (Foto: NASA)

CALIFORNIA, iNews.id - Tidak hanya manusia di Bumi, astronot pada misi luar angkasa yang panjang, ternyata bisa berisiko terkena demam luar angkasa. Fakta itu terkuak berkat studi terbaru.

"Demam antariksa ini, seperti yang kita sebut memiliki implikasi potensial untuk penerbangan luar angkasa jangka panjang dalam hal kesehatan, kesejahteraan, dan dukungan astronot," kata peneliti dalam studi mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.

Ia mengatakan, fenomena ini berimplikasi pada peradaban spacefaring masa depan dan kemampuan evolusioner manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Manusia memiliki suhu tubuh normal sekitar 37 derajat Celsius, yang dikendalikan dalam jarak yang sempit dengan mekanisme seperti berkeringat dan menggigil. Pengalihan yang signifikan dari suhu ini bisa mengancam nyawa manusia.

Untuk mencapai temuan ini, para peneliti mempelajari 11 astronot sebelum, selama, dan setelah mereka tinggal di  International Space Station (ISS). Mereka melacak suhu tubuh para astronot saat berolahraga dan beristirahat.

Olahraga sangat penting untuk menjaga agar astronot tetap fit. Namun selama periode tersebut, para ilmuwan menemukan suhu inti astronot sering kali melampaui 40 derajat Celsius.

Penyimpangan yang parah di atas 40 derajat Celsius bisa memiliki konsekuensi yang mengancam jiwa. Para ilmuwan menemukan, suhu tubuh inti meningkat lebih tinggi dan cepat saat latihan fisik di luar angkasa dibandingkan lapangan. Namun, temuan yang paling menonjol adalah peningkatan suhu tubuh 1 derajat Celsius, bahkan saat istirahat.

"Di bawah kondisi tanpa bobot, tubuh kita merasa sangat sulit untuk menghilangkan kelebihan panas," kata Hanns-Christian Gunga, seorang spesialis kedokteran luar angkasa di klinik universitas yang berbasis di Berlin, Charite.

"Perpindahan panas antara tubuh dan lingkungannya menjadi semakin menantang dalam kondisi ini," katanya lebih lanjut, dikutip iNews.id dari The Independent, Rabu (10/1/2018).

Intinya, gravitasi rendah membuat keringat menguap lebih lambat dan kehilangan kemampuan untuk benar-benar berkeringat merupakan pendorong utama dalam perkembangan demam luar angkasa. Kekurangan seperti ini tampaknya sangat menonjol selama latihan.

"Ini sesuai dengan bukti enekdot dari kosmonot yang mengeluh tentang ketidaknyamanan termal," tulis para peneliti.

Mereka mencatat, penerbangan luar angkasa juga menyebabkan respons pro-inflamasi serupa dengan yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi, yang memengaruhi suhu tubuh inti.

Penelitian ini melibatkan, teknologi baru yang diterapkan melalui sensor dahi, yang menggabungkan sensor suhu permukaan kulit dengan sensor heat-flux, dan mampu mengukur perubahan kecil pada suhu darah.

Para ilmuwan yang menyimpulkan hasil mereka, juga bisa berimplikasi pada manusia di Bumi.

"Hasilnya juga menimbulkan pertanyaan tentang evolusi suhu tubuh inti optimum kami. Bagaimana hal itu telah disesuaikan dan akan terus beradaptasi dengan perubahan iklim di Bumi," kata Gunga.


Editor : Dini Listiyani

KOMENTAR