Tahun Ini, Black Hole Bakal Terlihat Pertama Kali

Dini Listiyani · Jumat, 12 Januari 2018 - 11:10 WIB

Ilustrasi Black Hole (Foto: Pixabay)

CALIFORNIA, iNews.id - Dalam 12 bulan ke depan, astrofisikawan percaya, mereka bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan bisa berimplikasi terhadap pemahaman manusia tentang alam semesta.

Lubang hitam atau black hole merupakan titik di luar angkasa dengan tarikan gravitasi yang begitu kuat, sehingga cahaya pun tidak bisa lepas darinya. Albert Einstein memprediksi adanya black hole dalam teorinya tentang relativitas umum, tapi ia tidak yakin mereka benar-benar ada.

Sejauh ini, tidak ada yang mampu menghasilkan bukti nyata yang mereka lakukan. Namun, The Event Horizon Telescope (EHT) bisa mengubah itu. EHT merupakan jaringan dari teleskop di seluruh dunia. Dengan bekerja selaras, perangkat ini bisa menyediakan semua komponen yang diperlukan untuk menangkap gambar black hole.

"Pertama, Anda memerlukan ultra-high magnification, setara dengan mampu menghitung lesung pada bola golf di Los Angeles saat Anda duduk di New York," kata EHT Director Sheperd Doeleman sebagaimana dikutip iNews.id dari Science Alert, Jumat (12/1/2018).

Selanjutnya, Doeleman mengatakan, Anda butuh cara untuk melihat melalui gas di Bima Sakti dan gas panas di sekitar black hole itu sendiri. Untuk itu, dibutuhkan teleskop sebesar Bumi. Di situlah EHT ikut bermain.

Tim EHT menciptakan teleskop seukuran virtual Bumi, menggunakan jaringan antena individu yang tersebar di seluruh planet ini.


Mereka menyinkronkan piringan, sehingga bisa diprogram untuk mengamati titik yang sama di luar angkasa pada waktu yang sama dan mencatat gelombang radio yang dideteksi ke hard disk.

Idenya adalah menggabungkan data ini di kemudian hari, tim EHT bisa menghasilkan gambar yang sebanding dengan yang bisa diciptakan menggunakan teleskop seukuran Bumi tunggal.

Pada April 2017, tim EHT menempatkan teleskop mereka untuk diuji coba pertama kalinya. Selama lima malam, delapan piring di seluruh dunia mengarahkan perhatian mereka pada Sagitarius A* (SGR A*), titik di tengah Bima Sakti yang menurut para peneliti merupakan lokasi supermasif black hole.

Data dari South Pole Telescope tidak sampai ke MIT Haystack Observatory  hingga pertengahan Desember karena kurangnya arus kargo keluar dari wilayah tersebut. Kini, setelah tim memiliki data dari delapan antena radio, mereka bisa memulai analisis mereka dengan harapan menghasilkan gambar pertama black hole.

Tidak hanya bayangan sebuah black hole yang membuktikan benda itu memang ada, namun juga akan mengungkapkan wawasan baru ke alam semesta.

"Dampak black hole di alam semesta sangat besar," kata Doeleman.

"Sekarang diyakini, supermasif black hole di pusat galaksi dan galaksi yang mereka tinggali berkembang bersama selama masa kosmik. Jadi, mengamati apa yang terjadi di dekat cakrawala peristiwa akan membantu kita memahami alam semesta dengan skala yang lebih besar," katanya.

Di masa depan, peneliti bisa mengambil gambar dari satu black hole waktu ke waktu. Ini akan memungkinkan para ilmuwan menentukan apakan teori relativitas umum Einstein benar terjadi di batas black hole dan mempelajari bagaimana black hole tumbuh dan menyerap materi.

Namun, pengataman April tentang Sgr A* yang pertama menggunakan EHT dan Doeleman, menjaga harapan tetap ada dalam pemeriksaan. Saat seluruh tim gembira dengan prospek menghasilkan gambar yang tidak pernah dilihat sebelumnya, mereka memastikan untuk bekerja dengan hati-hati dan sengaja menggunakan data itu.

Meski begitu, para ilmuwan lebih dekat dari sebelumnya untuk akhirnya menangkap gambar black hole dan tidak ada salahnya berharap tim EHT melewati garis finish pada 2018.


Editor : Dini Listiyani

KOMENTAR