5 Jenis Kain Tradisional untuk Oleh-Oleh Turis, Salah Satunya Songket

Rahma Sari · Selasa, 09 Januari 2018 - 16:27 WIB

Songket khas Palembang. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id – Setiap kali travelling ke suatu tempat, Anda sering membeli oleh-oleh berupa kuliner khas. Kali ini, Anda bisa mencari alternatif lain dengan membeli oleh-oleh kain tradisional yang memiliki motif beragam.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun lalu, menetapkan 33 kain sebagai warisan budaya tak benda. Kain tersebut di antaranya batik, ulos, songket, tenun ikat, dan kain lain yang mulai sulit ditemukan. Anda dapat mengoleksinya atau membuat kain tersebut menjadi pakaian.

Berikut ini jenis-jenis kain tradisional yang dapat dibeli oleh turis lokal atau mancanegara sebagai oleh-oleh, sebagaimana dirangkum iNews.id, Selasa (9/1/2018)

Ulos Batak Toba, Sumatera Utara

Ulos dalam bahasa Batak berarti kain. Proses pembuatan ulos dengan cara ditenun yang diajarkan secara turun- temurun pada masyarakat Batak yang ada di Sumatera Utara. Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, putih, dan dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Harga ulos bervariatif, sesuai dengan motif dan tingkat kesulitan pembuatan. Jika berkunjung ke Medan, Anda dapat mampir ke Galeri Ulos Sianipar dan UKM Bersama yang berada di Jalan AR Hakim Gang Pendidikan No. 130 Medan. Digaleri ini dijual berbagai motif ulos, serta kerajinan lainnya. Satu kain tenun ulos dengan benang biasa harganya sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. Sedangkan ulos dari benang sutra, bisanya mencapai Rp5 juta.

Tenun Ikat Dayak/Sintang, Kalimantan Barat

Tenun khas Dayak dibuat dengan memadukan motif lokal dan pola simetris, sehingga menghasilkan motif yang sangat khas. Selain motif, tenunnya juga sangat khas dengan menonjolkan warna-warna cerah. Kain tenun sintang dari Kalimantan Barat berasal dari dua daerah kecil di Kabupaten Sintang, yakni Ensaid Panjang dan Bukit Kelam. Harga satu kain tenun ikat dayak dijual Rp1,5 juta sampai Rp2 juta.

Songket Palembang, Sumatera Selatan

Songket Palembang memadukan benang emas sutra dengan katun yang menjadikan kainnya terasa keras dan kaku. Umumnya, songket khas Palembang dibuat dengan benang emas asli atau benang emas jantung dengan berat mencapai 1 kg, 18 karat. Salah satu tempat yang menjual songket adalah Griya Kain  di Jalan Aiptu A Wahab, Kelurahan Tuan Kentang, Kota Palembang. Untuk harga songketnya sekitar Rp3 juta sampai Rp5 juta. Bahkan, beberapa di antaranya mencapai puluhan juta.

Tenun Ikat Sumba, Nusa Tenggara Timur

Tenun ikat khas Sumba merupakan warisan budaya turun-temurun antar generasi. Pembuatan kain ini menghabiskan waktu cukup lama, tergantung kerumitan motifnya. Kain tenun ini memiliki ragam hias dengan desain tegas, kaya warna, dan mudah dikenali.

Tenun ikat sumba begitu kaya motif menyimbolkan ragam makna dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Di Pulau Sumba, sentra kain tenun ikat ini dapat dijumpai di sejumlah pesisir utara dan timur laut, seperti di Kanatang, Kambera, Rindi, Umalulu, dan Mangili. Sementara di Sumba Barat, terdapat di Kodi, tepatnya di Sumba bagian barat daya.

Harga kain tenun ikat sumba dengan pewarna sintesis sekitar Rp500.000 sampai Rp1 juta. Sedangkan kain tenun ikat dengan pewarna alami, jauh lebih mahal lagi, bisa mencapai puluhan juta.

Lurik, DIY Yogyakarta

Lurik memilik motif yang sangat unik, yaitu garis klasik dengan nuansa warna solid. Kain yang banyak ditemukan di daerah Yogyakarta, Solo, dan Klaten ini, beberapa tahun lalu sempat terancam karena kurangnya pengrajin kain lurik yang masih bertahan. Untuk terus melestarikan kain lurik, Klaten sedang gencar dipromosikan sebagai daerah yang memiliki sentra kerajinan kain lurik alat tenun bukan mesin (ATBM). Khususnya di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Harga per meter kain lurik ATBM seharga Rp100.000 tergantung corak.


Editor : Tuty Ocktaviany

KOMENTAR