Masakan Legenda Minang di Situjuah Payakumbuh, Kelezatan Tiada Duanya

Atika Suri · Minggu, 11 Februari 2018 - 19:44 WIB

Nikmati kelezatan kuliner dari Situjuah Payakumbuh, Sumatera Barat. (Foto: iNews.id/Atika Suri)

PAYAKUMBUH, iNews.id – Sumatera Barat tidak hanya menyimpan sederet destinasi yang patut disinggahi, tetapi juga kuliner enak. Mulai dari Padang, Bukittinggi, Payakumbuh terkenal memiliki kuliner lezat yang tiada duanya.

Bagi saya yang suka mencicipi kuliner khas di setiap daerah, tentu tidak akan melewatkan kesempatan menikmati kuliner di Sumatera Barat. Ya, tak ada yang lebih asyik ke luar kota bersama orang-orang yang memiliki hobi sama berburu aneka kuliner.

Belum lama ini, di sela tugas di Padang, Sumatera Barat, saya dan beberapa rekan wartawan dari Jakarta sengaja melewatkan sarapan pagi di hotel, demi berburu aneka masakan khas Minang. Bukittinggi menjadi tujuan pertama kami.

Benar saja, perjalanan dari Padang hingga Bukittinggi kami lalui dengan berbagai kegiatan icip-icip. Pisang goreng dan perkedel jagung di Lembah Anai, sate dan kue bika Padang Panjang hingga makan siang berat di nasi kapau Pasar Atas Bukittinggi.

Perut yang mulai terasa kenyang, tidak menyurutkan niat kami untuk berburu satu lagi makanan khas daerah ini. Hari sudah menjelang sore ketika kendaraan yang kami tumpangi melaju kencang mengikuti lurusnya jalan menuju Kota Payakumbuh.

Mendekati pusat kota, kami mengikuti papan petunjuk jalan belok ke kanan menuju Kecamatan Situjuah. Mata kami terus menyusuri Jalan Khatib Sulaiman yang dipenuhi hamparan sawah, mencari rumah makan tujuan kami.

Pencarian berhenti di depan sebuah bangunan kayu sederhana dengan papan nama Pongek ‘OR’ Situjuah. Begitu memasuki halaman samping, tampak bangunan lain yang lebih megah lengkap dengan musala dan fasilitas lain di bagian belakang.

Pemilik rumah makan Pongek 'OR' Situjuah Ordinal (kanan).

Pemilik rumah makan, Ordinal, mengawali usahanya sembilan  tahun lalu di bangunan kayu di bagian depan lokasi yang kini luas keseluruhannya mencapai 5.000 meter persegi itu. Usahanya terus berkembang, namun OR, begitu Ordinal biasa disapa, tetap mempertahankan bangunan sederhana di bagian depan tersebut. Hingga kini, di sinilah dapur utama untuk mengelola beberapa makanan favorit pembeli dengan mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan kayu.

Sesuai namanya, pongek menjadi salah satu hidangan favorit. Hidangan sederhana berupa potongan nangka muda yang dimasak dengan semacam bumbu gulai, namun nyaris tidak berkuah.


Hidangan lain yang menjadi incaran pembeli, yakni dendeng batokok, ikan bakar, dan gulai kambing. Dendeng batokok sekilas seperti potongan daging dendeng biasa berwarna kecoklatan, dihidangkan dengan siraman sambal cabai hijau.  

Cara pengolahannya sungguh istimewa. Daging dimasak dulu dengan bumbu rempah dan santan. Agar lebih empuk, potongan daging yang sudah masak di-tokok atau dipukul-pukul. Dendeng batokok, artinya dendeng yang diolah dengan cara dipukul-pukul. Masih belum selesai, sesaat sebelum dihidangkan, daging dipanggang sekilas di atas bara kayu.

Tak sabar saya memasukkan potongan daging ke mulut. Langsung saya memahami mengapa hidangan ini menjadi favorit pembeli. Hmmm, lezat.

Perpaduan bumbu rempah dan santan khas Minang, serta aroma wangi asap saling melengkapi. Sambal cabai hijau menjadi penyeimbang. Selain pedas, racikan sambal mengandung rasa asam perasan jeruk dan harum minyak kelapa yang dituangkan untuk menumis.

Ikan bakar yang dibaluri bumbu rempah dan santan pekat, juga favorit pembeli. Lagi-lagi, baluran rempah khas Minang yang tebal di seluruh bagian ikan dan wanginya aroma kayu bakar, membuat kami tak berhenti menikmati daging ikan.



Untuk pencuci mulut, tersedia aneka kue-kue tradisional, seperti bongko, bugis, dan tentu saja nasi lomak dan srikaya yang menjadi pilihan kami. Nasi lomak adalah ketan yang diberi santan dan dikukus di dalam bungkusan daun pisang. Rasanya yang gurih bertemu manisnya srikaya, sejenis puding santan dan gula merah menjadi penutup yang tidak terlupakan. Kami beruntung berkunjung di musim durian dan tidak melewatkan kesempatan mencicipi durian.


Untuk berbagai kenikmatan hidangan khas Situjuah ini, Anda tidak usah khawatir tentang harga karena masih ramah di kantong. Makan berenam,  harga yang kami bayar tidak lebih dari Rp250.000.

Perburuan kuliner hari itu pun berakhir. Perut kenyang, hati pun senang mengiringi perjalanan kami kembali ke Padang.


Editor : Tuty Ocktaviany

KOMENTAR