Menelusuri Jejak Horor di Lobang Jepang Bukittinggi

Masirom · Minggu, 11 Februari 2018 - 15:20 WIB

Lobang Jepang Bukittinggi menjadi destinasi menarik bagi wisatawan saat berlibur ke Sumbar. (Foto: iNews.id/Masirom)

BUKITTINGGI, iNews.id – Objek wisata Lobang Jepang di Taman Panorama Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), memang menyimpan kisah horor yang membuat wisatawan penasaran. Di sini ribuan pekerja dipaksa membuat terowongan, yang kemudian disiksa dan dibunuh.

Ya, nyali langsung ciut begitu Jhon, pemandu wisata di Taman Panorama Ngarai Sianok, memaparkan tentang Lobang Jepang. Awalnya, kami percaya diri hendak memasuki Lobang Jepang tanpa memanfaatkan jasa pemandu wisata.

“Total panjang Lobang Jepang ini 1,47 kilometer dan di dalamnya banyak lorong. Tidak ada sinyal handphone karena lubang ini kedalamannya 40 meter di bawah permukaan tanah,” ujar Jhon kepada kami, rombongan wartawan dari Jakarta, yang berkunjung ke Lobang Jepang, Bukittinggi, Sumatera Barat, baru-baru ini.   

Pengunjung di depan pintu masuk Lobang Jepang Bukittinggi.

Tak mau mengambil risiko tersesat dalam  Lobang Jepang, yang sebenarnya lebih pas disebut sebagai bunker atau terowongan, kami pun menerima tawaran Jhon.

Pintu masuk Lobang Jepang terdapat di Taman Panorama Ngarai Sianok, destinasi wisata populer di Bukittinggi. Lokasinya tak jauh dari ikon wisata Kota Bukittinggi, Jam Gadang. Kira-kira berjalan 15 menit dari Jam Gadang, kita sudah sampai di pintu masuk Taman Panorama Ngarai Sianok.

Dari pintu masuk Taman Panorama, mudah sekali menemukan Lobang Jepang. Selain dekat, ada patung tentara Jepang, yang seolah sebagai penanda lokasi Lobang Jepang.

Sejarah Kota Bukittinggi di masa lalu, memang tidak bisa dilepaskan dari masa pendudukan Jepang, tahun 1942-1945. Oleh pemerintah Negeri Sakura, kala itu Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pertahanan militer untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai Singapura dan Thailand. Di Bukittinggi berkedudukan komandan militer ke-25 Jepang.


Keberadaan Lobang Jepang dimaksudkan sebagai bunker atau terowongan untuk pertahanan militer Jepang. Bunker ini dibangun selama periode 1942-1945 oleh ribuan pekerja paksa (romusha) yang didatangkan dari Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Banyak di antara mereka kemudian dibunuh oleh tentara Jepang, demi menjaga kerahasiaan lubang ini,” ujar Jhon.

Begitu masuk Lobang Jepang, pengunjung akan menuruni 132 anak tangga untuk mencapai dasar. Diameter terowongan sekitar dua meter, sehingga pengunjung dengan mudah bisa berjalan menelusuri lorong demi lorong. Beberapa lampu yang dipasang, meski tidak terang benderang, cukup untuk menerangi jalan yang dilalui pengunjung. Di dalam lorong terasa dingin.

Di kanan-kiri lorong utama, terdapat banyak lorong dan ruangan yang di masa lalu difungsikan sebagai tempat menyimpan amunisi, pintu pelarian, pintu penyergapan, barak militer, ruang sidang, penjara, dapur, dan ruang makan.



Menelusuri satu per satu lorong, sambil mendengarkan cerita dari pemandu wisata, membawa pikiran melayang, membayangkan masa penjajahan Jepang di masa lalu. Membayangkan ribuan pekerja dipaksa membuat terowongan, yang kemudian disiksa dan dibunuh.

“Ruang penjara ini dulunya dipakai untuk menghukum para pekerja yang tidak mau menggali terowongan. Mereka kemudian dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai melalui lubang di ruang dapur,” jelas Jhon.

Di antara ruangan yang ada di Lobang Jepang, ruang penjara dan dapur memang paling “menyeramkan”. Jejak horor begitu terasa di dua ruangan yang berdekatan ini. Di dapur terdapat dua lubang seukuran ban mobil, di bagian atas dan bawah ruangan.


Lubang atas untuk pengintaian, sedangkan lubang bawah untuk membuang mayat. “Ujung lubang yang bawah ini, merupakan sungai di Ngarai Sianok. Tentara Jepang membuang mayat ke sungai melalui lubang ini,” papar Jhon.

Tidak ada data pasti yang menyebut jumlah korban tewas di Lobang Jepang akibat kekejaman tentara Jepang. Namun, melihat jangka waktu pengerjaan yang hanya sekitar tiga  tahun, dipastikan pembuatan Lobang Jepang dilakukan oleh ribuan pekerja. Apalagi bagian terowongan yang dibuka untuk wisata saat ini, hanya sepanjang 1,47 km, dari total terowongan yang kabarnya mencapai lebih dari 5 km.

“Hingga saat ini ada tiga misteri yang belum terungkap. Berapa ribu jumlah pekerja yang jadi korban, ke mana tanah galian dibuang, dan bagaimana nasib Jenderal Watanabe yang memerintahkan pembuatan Lobang Jepang ini,” kata Jhon mengakhiri ceritanya kepada kami.


Sebagai saksi masa pendudukan Jepang di masa lampau, Lobang Jepang menarik dikunjungi. Anda cukup membayar tiket Rp15.000 per orang untuk masuk Taman Panorama Ngarai Sianok, sekaligus menelusuri lorong-lorong di Lobang Jepang. Jangan lupa, siapkan tip untuk pemandu wisata.


KOMENTAR