BNI sasar sektor downstream. Foto: BNI
Anggie Ariesta

JAKARTA, iNews.id - PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI menangkap peluang pengembangan bisnis ke area sektor downstream atau sektor turunan komoditas. Permintaan pada sektor-sektor turunan kini mulai meningkat seiring pemulihan paska pandemi Covid-19.  

Corporate Secretary BNI Mucharom menyampaikan, potensi pertumbuhan kredit tahun ini tergolong cukup tinggi. Banyak sektor yang kembali membukukan peningkatan kinerja cukup baik sehingga mendorong kinerja, khususnya dari sektor turunan komoditas. Hal ini pun sejalan dengan arahan dari pemerintah agar komoditas andalan Tanah Air dapat dijual ke luar negeri dengan nilai tambah lebih tinggi.  

"Sektor downstream komoditi ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Kami melihat banyak pembangunan smelter akan sangat marak dan besar. Pemerintah mulai banyak melarang barang yang belum jadi sehingga semua proses pengolahan terjadi di dalam negeri. Kami berharap ini menjadi engine pertumbuhan segmen korporasi swasta kami," katanya.  

Mucharom mengutarakan, pertumbuhan kredit BNI tahun ini masih sesuai target awal tahun. Beberapa nasabah top tier sudah mulai menunjukkan perbaikan kinerja seperti infrastruktur, listrik dan gas, pergudangan dan digital. Hal ini juga sejalan dengan penurunan  restrukturisasi kredit sehingga membantu BNI untuk dapat melakukan ekspansi lebih berkualitas.  

"Kami akan tetap dengan target awal kami di high single digit. Kami lihat potensi pertumbuhan tinggi sejak awal tahun ini, sehingga kami cukup percaya diri," ujarnya. 

Adapun, kredit di segmen Business Banking masih menjadi motor akselerasi bisnis kredit BNI. Pertumbuhan ini terutama pembiayaan ke segmen korporasi swasta yang tumbuh 9,9 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp193,2 triliun; segmen large commercial yang tumbuh 24,5 persen yoy menjadi Rp46,1 triliun; segmen UMKM juga tumbuh 11,8 persen yoy dengan nilai kredit Rp98 triliun. Secara keseluruhan kredit di sektor business banking ini tumbuh 4,8 persen yoy menjadi Rp489,3 triliun.


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT