Minyak goreng Rp14.000 di beberapa ritel modern ludes terjual. Hal ini membuat ibu-ibu kecewa karena tidak kebagian. (foto: Advenia Elisabeth/MPI)
Advenia Elisabeth

JAKARTA, iNews.id - Minyak goreng satu harga yang dijual Rp14.000 per liter menjadi rebutan masyarakat. Tak sedikit ritel modern yang kehabisan stok hanya dalam waktu 2 jam. 

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, mengatakan fenomena tersebut sudah biasa terjadi. Di mana ada barang murah di ritel modern, masyarakat kalap membeli seolah besok barang tak ada lagi.

"Padahal arus suplai kan normal. Tapi masyarakat menyerbu seolah-olah besok enggak ada barangnya (minyak goreng)," kata Oke saat berdialog di acara televisi swasta, dikutip Sabtu (22/1/2022).

Dia menjelaskan, distribusi di ritel modern memang dibatasi untuk menjaga pemerataan kebutuhan minyak goreng satu harga kepada masyarakat. Artinya, hal itu memang dilakukan agar distribusi minyak goreng satu harga dapat berlangsung setiap hari dan memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Menurut Oke, jika stok minyak goreng Rp14.000 di ritel modern habis, bukan berarti ketersediaan minyak goreng yang di disediakan Pemerintah habis. 

"Ritel modern dalam 2 jam habis, terus masyarakat mengira minyak goreng enggak ada lagi. Karena jalur normal seperti itu di ritel modern. Walaupun kita tambah kapasitas, tapi jalur distribusi normal di ritel modern itu ya terbatas seperti itu," ujar Oke.

Dia mengungkapkan, minyak goreng satu harga yang disediakan pemerintah akan tersedia sampai enam bulan ke depan. Sehingga masyarakat tak perlu khawatir keesokan harinya tidak dapat membeli minyak goreng. 

"Subsidi ini kan sampai enam bulan. Tapi yang sekarang ini diperebutkan itu dalam satu minggu pertama. Saat ini pun, karena komunikasi yang transparan kepada masyarakat, masyarakat jadi tahu dan langsung berbondong-bondong ke ritel modern," tutur Oke.

Dia menambahkan, kesempatan memperoleh minyak goreng satu harga ini masih panjang, masih sangat terbuka untuk rumah tangga dan pelaku usaha kecil dan mikro (UKM). 



Editor : Jeanny Aipassa

BERITA TERKAIT