Defisit transaksi berjalan naik pada kuartal II, neraca pembayaran minus.
Michelle Natalia

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi berjalan pada kuartal II tahun ini mengalami defisit sebesar 2,2 dolar AS atau 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit transaksi berjalan tersebut meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatat defisit sebesar 1,1 miliar dolar AS atau 0,4 persen dari PDB. 

"Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2021 tetap rendah meski meningkat sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik. Transaksi berjalan pada periode laporan mencatat defisit sebesar 2,2 miliar dolar AS," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, dalam keterangannya, Jumat (20/8/2021). 

Dia menuturkan, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca barang, didukung oleh kenaikan ekspor seiring peningkatan permintaan negara mitra dagang utama dan harga komoditas dunia di tengah kenaikan impor sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik. 
 
Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran imbal hasil investasi berupa dividen seiring perbaikan kinerja korporasi pada periode laporan. 

"Defisit neraca jasa juga meningkat, antara lain disebabkan defisit jasa transportasi yang melebar akibat peningkatan pembayaran jasa freight impor barang," ujarnya.

Adapun Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2021 mengalami defisit sebesar 0,4 miliar dolar AS. Sedangkan posisi cadangan devisa akhir Juni 2021 mencapai 137,1 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.

"Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2021 mencapai 137,1 miliar dolar AS, relatif sama dibandingkan posisi pada akhir Maret 2021," ucap Erwin.


Editor : Jujuk Ernawati

BERITA TERKAIT