Angkatan Udara AS dilaporkan akan memesiunkan 33 unit jet tempur siluman F-22 Raptor (Foto: Reuters)
Anton Suhartono

WASHINGTON, iNews.id - Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) berencana memensiunkan 33 unit jet tempur siluman F-22 Raptor. Tujuannya sebagai upaya efisiensi dana sehingga bisa dialihkan untuk penelitian desain jet tempur baru.

Biaya yang akan dihabiskan untuk meng-upgrade jet tempur yang tak dijual ke negara lain itu sangat besar. Departemen Pertahanan AS rencananya akan mengirim 33 jet F-22 Raptor ke 'kuburan'di Pangkalan Udara Davis-Monthan di Tucson, Arizona. 

Selanjutnya dana untuk perawatan, operasional, serta upgrade F-22 akan dialihkan untuk penelitian dan pengembangan di bawah program 'Next-Generation Air Dominance', demikian dilaporkan Defense News, Senin (28/3/2022). 

Jika disetujui Kongres AS, rencana tersebut akan memangkas armada F-22 AS dari 186 menjadi 153 unit.

Rencana untuk memindahkan pesawat dari pangkalan Eglin AFB di Florida itu sudah tertahan selama lebih dari 3 tahun. Unit yang akan dipensiunkan sudah berusia tua sehingga harus di-upgrade untuk memenuhi kebutuhan tempur saat ini. Masalahnya biaya upgrade sangat mahal.

Pejabat anggaran Pentagon James Peccia mengungkap, biaya yang dibutuhkan untuk 33 unit F-22 itu hampir 2 miliar dolar AS selama 8 tahun ke depan.

Sementara itu F-22 yang ada saat ini ditempatkan di pangkalan Virginia, Hawaii, Florida, dan Alaska.

Namun Menteri Angkatan Udara AS Frank Kendall mengatakan belum ada rencana untuk memensiunkan F-22 lainnya. Menurut dia F-22 merupakan alat utama pertempuran udara ke udara militer AS.

Kabar ini muncul saat Gedung Putih mengusulkan penambahan anggaran militer untuk 2023 dan yang terbesar dalam sejarah AS, yakni 813,3 miliar dolar AS. Angka itu bertambah 31 miliar dolar dibandungkan anggaran yang sudah disetujui untuk 2022. 

Usulan anggaran tersebut mencakup 682 juta dolar AS dalam bentuk bantuan militer untuk Ukraina serta peningkatan 9,5 persen untuk penelitian dan pengembangan dengan nilai total lebih dari 130 miliar dolar AS. 


Editor : Anton Suhartono

BERITA TERKAIT