Misteri ratusan orang meninggal di danau terpencil pegunungan Himalaya, Roopkund, belum terungkap (Foto: Free Press Journal)
Rina Anggraeni

JAKARTA, iNews.id - Banyak misteri ratusan orang meninggal di danau terpencil pegunungan Himalaya yang belum terungkap kebenarannya. Tidak ada yang mengetahui penyebab kematian ratusan manusia di danau bernama Roopkund atau juga dikenal danau tengkorak itu. 

Misteri ini tampaknya menjadi populer dan saling berkaitan dengan Danau Roopkund. Apalagi, banyak peneliti dan turis yang menceritakan pengalaman kunjungan mereka.

Hasil kajian yang dipimpin Eadaoin Harney, pakar biologi evolusioner Universitas Harvard, menganalisis DNA dari 38 kerangka yang ditemukan di danau tersebut. Studi Harney diterbitkan di jurnal Nature Communications.

Berdasarkan analisis diketahui korban tewas di waktu berbeda-beda di danau, mencakup satu kejadian pada akhir abad ke-19.

"Kami menemukan fakta kerangka di Danau Roopkund berasal dari tiga kelompok genetik berbeda, tewas pada waktu berbeda," kata Harney. 

"Penemuan ini menyangkal teori sebelumnya bahwa kerangka di Danau Roopkund berasal dari periode waktu yang sama,” katanya, melanjutkan.

Populasi manusia paling kuno yang tewas di Danau Roopkund disebut sebagai Roopkund_A, terdiri atas 23 laki-laki dan perempuan keturunan Asia Selatan. Mereka tewas sekitar 1.200 tahun lalu. Selain itu, teknologi radiokarbon membuktikan kematian mereka tidak disebabkan badai es seperti teori sebelumnya.

Sejumlah individu Roopkund_A diperkirakan tewas sepanjang kurun 675-769 SM hingga 894-985 SM. Perbedaan antara kedua kurun waktu tersebut berarti mereka tidak mati secara bersamaan.

Tim yang dipimpin Harney kemudian menemukan populasi kedua yang diberi nama Roopkund_B. Kelompok ini tewas hanya beberapa abad lalu atau sekitar tahun 1800-an. Kelompok ini termasuk 14 laki-laki dan perempuan keturunan Mediterania Timur yang secara genetik mirip penghuni Pulau Crete di Yunani. 

Populasi ketiga terdiri dari hanya satu orang, Roopkund_C, yaitu laki-laki keturunan Asia Timur yang tewas secara bersamaan dengan Roopkund_B.

"Studi kami mendalami misteri Roopkund," ujar Niraj Rai, penulis studi yang juga ketua Laboratorium DNA Kuno di Birbal Sahni Institute of Palaeosciences, India. 

Berkat studi ini, para peneliti berhasil menyingkirkan spekulasi populer tentang asal-usul individu-individu Roopkund.

Contohnya, pada dekade 1950-an, tersebar teori bombastis yang mengklaim kerangka-kerangka di Danau Roopkund berasal dari pasukan jendral Zorawar Singh Kahluria yang tewas saat berupaya menduduki Tibet pada 1841. Namun, teori ini bertentangan dengan adanya kerangka perempuan di loaksi kejadian yang kemungkinan besar tidak mengikuti ekspedisi militer.

Teori hujan es masih dapat dipercaya dan tim Harney berencana memeriksa tengkorak lain dalam studi berikutnya. 



Editor : Anton Suhartono

BERITA TERKAIT