Gerai waralaba di Jepang terimbas krisis tenaga kerja (Foto: AFP)
Anton Suhartono

TOKYO, iNews.id - Kalangan bisnis di Jepang mulai merasakan imbas penurunan jumlah penduduk. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan tenaga kerja, seperti dialami berbagai toko waralaba.

Mini market 7-11 akan mengurangi jam operasional di beberapa gerai, tidak lagi buka 24 jam.

Dilaporkan Nikkei Asian Review, mulai pertengahan Maret 2019, 10 gerai 7-11 hanya beroperasi dari pukul 07.00 sampai 23.00. Uji coba akan dilakukan selama beberapa bulan untuk mengetahui dampaknya terhadap penjualan dan volume pembeli.

Setelah itu, mini market yang berada di bawah Seven & i Holdings akan mengevaluasi hasil uji coba tersebut dan menyesuaikan dengan lokasi-lokasi berdirinya gerai.

Beridiri di 20.000 lokasi, 7-11 merupakan penguasa mini market di Jepang. Sekitar 98 persen di antaranya, tidak termasuk di stasiun kereta dan gedung perkantoran, buka 24 jam.

Aturan untuk buka 24 jam bagi pemegang franchise 7-11 dibuat berdasarkan dari lokasi gerai. Alasannya bukan sekadar untuk memudahkan pelanggan, tetapi juga menjaga kesinambungan logistik, mengingat 7-11 juga memasarkan produk sendiri.

Namun pemilik waralaba kesulitan untuk mengelola toko mereka jika buka 24 jam. Salah satu pemilik di Osaka bahkan sudah memangkas operasional toko menjadi 19 jam sejak bulan lalu.

Dampaknya, dia dituduh melanggar kontrak dengan perusahaan. Pada akhir Februari, pemilik waralaba itu berunding bersama perusahaan untuk menegosiasikan jam kerja serta solusi lainnya.

Tak hanya 7-11, krisis serta pasar tenaga kerja yang semakin ketat di Jepang juga mendorong banyak mini market serta restoran cepat saji lain mengevaluasi kembali operasional 24 jam. Lawson dan FamilyMart juga menguji coba pengurangan jam operasional.

Bahkan McDonald's sudah melakukan lebih dulu dengan mengurangi jam buka di separuh gerai 24 jam di 800 lokasi selama 3 tahun terakhir.


Editor : Anton Suhartono

BERITA TERKAIT