Asian Games 2018 dan Rupiah Kita

Masirom ยท Rabu, 05 September 2018 - 22:01 WIB


Masirom
Wartawan iNews
Alumni Program Magister Manajemen Eksekutif PPM School of Management


PESTA olah raga terbesar bangsa-bangsa Asia, Asian Games 2018, baru saja berakhir. Indonesia, sebagai tuan rumah, sukses besar. Sukses penyelenggaraan, sukses pula dalam adu prestasi olah raga. Sepanjang dua minggu pagelaran laga Asian Games 2018, kontingen Indonesia meraih total 98 medali, terdiri atas 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Yang tersukses sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia dalam Asian Games.

Demam Asian Games tak hanya dirasakan para atlet, ofisial, maupun 13.000 relawan. Sejak upacara pembukaan pada 18 Agustus 2018 hingga penutupan 2 September 2018, ruang publik selalu diramaikan gegap gempita Asian Games.

Momen-momen tertentu bahkan menjadi trending topic di media sosial dan pokok bahasan media-media arus utama. Mulai dari gaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri upacara pembukaan Asian Games, selebrasi buka baju pebulu tangkis kebanggaan Indonesia Jonatan Christie (Jojo), aksi pesilat Hanifan Yudani Kusumah memeluk Presiden Jokowi dan Ketua Umum IPSI Prabowo Subianto, hingga upacara penutupan yang sangat meriah. Semuanya keren.

Animo masyarakat menyaksikan langsung setiap gelaran Asian Games, baik saat atlet-atlet nasional berlaga maupun upacara pembukaan dan penutupan, luar biasa tinggi. Tiket yang harganya tidak bisa dibilang murah, ludes terjual. Antrean panjang di setiap venue pertandingan kerap terjadi, khususnya di cabang-cabang olah raga favorit bagi orang Indonesia, seperti bulu tangkis. Hujan deras pun tak menyurutkan niat puluhan ribu orang untuk menyaksikan langsung upacara penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (2/9/2018) malam.

Tetiba sebagai anak bangsa, kita tersadar. Oh, ternyata kita bisa sehebat ini, ya. Ada rasa kebanggaan sebagai bangsa yang meletup. Ada jiwa nasionalisme yang tiba-tiba membuncah dan bergelora. Indonesia keren, Indonesia hebat.

Lalu, apa kaitan Asian Games dengan rupiah, seperti judul tulisan ini? Seperti diberitakan, nilai tukar rupiah akhir-akhir cenderung tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rabu (5/9/2018) sore, kurs rupiah mendekati Rp15.000 per dolar AS.

Walau pemerintah memberi keyakinan bahwa kondisi perekonomian masih aman, pelemahan kurs rupiah jangan dipandang sebelah mata. Jangan anggap enteng.

Iya, lalu, apa kaitan Asian Games dengan rupiah? Saya hanya berandai-andai. Andai gegap gempita Asian Games juga menular ke rupiah. Andai letupan jiwa nasionalisme yang tetiba membuncah hebat selama Asian Games juga tecermin dalam gerak langkah kita mengatasi gejolak rupiah. Seluruh elemen bangsa sesuai peran dan kapasitasnya masing-masing bergerak bersama untuk “menyelamatkan” rupiah.

Apa itu? Sebagai pribadi, kita bisa mengurangi konsumsi barang-barang impor dengan menggunakan produk lokal. Bisa pula menunda keinginan atau rencana berlibur ke luar negeri. Atau bagi yang punya simpanan dolar AS, segera mengonversinya ke rupiah.

Bagi eksportir, segeralah konversi devisa hasil ekspor (DHE) dari dolar AS ke rupiah. Untuk urusan yang satu ini, jumlahnya masih minimal sekali. Bank Indonesia (BI) mencatat devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk ke perbankan dalam negeri sebesar 32,1 miliar dolar AS di triwulan II-2018, atau 92,4 persen dari seharusnya yang masuk sebesar 34,7 miliar dolar AS. Dari jumlah DHE yang masuk ke perbankan dalam negeri sebesar 32,1 miliar dolar tersebut, baru 4,4 miliar dolar AS atau 13,7 persen, yang dikonversi ke rupiah.

Lalu, apa tugas pemerintah? Banyak. Pada prinsipnya, baik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, pemerintah mesti memikirkan strategi memperkuat cadangan devisa. Dalam jangka pendek misalnya mendorong investasi portofolio masuk ke pasar keuangan Indonesia. Kemudian dalam jangka menengah-panjang, pemerintah bisa mendorong sektor pariwisata, sehingga bisa memancing turis-turis asing melancong ke Indonesia.

Bisa pula demi menggenjot ekspor, mendorong pembangunan kawasan khusus dengan berbagai insentif yang ditujukan bagi industri-industri berorientasi ekspor. Tujuannya agar barang-barang ekspor kita kompetitif di pasar luar negeri, yang pada gilirannya akan mendatangkan devisa.

Pertanyaannya kemudian, mungkinkah kita bisa bersatu padu, bergerak bersama, untuk “menyelamatkan” rupiah. Jawabannya, bisa. Asian Games 2018 mengajarkan kepada kita, event yang hebat bisa kita selenggarakan. Prestasi tinggi bisa kita torehkan. Siapa kita? Indonesia. Apa mata uang kita? Rupiah.

Editor : Zen Teguh