Leisumers

Yuswohady ยท Sabtu, 10 November 2018 - 08:01 WIB


Yuswohady

Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com

LEISUMERS atau leisure consumer adalah istilah yang saya berikan untuk menamai konsumen bentuk baru yang lahir dari terciptanya leisure economy di Indonesia. Seperti diketahui, sejak tahun 2015 telah terjadi sebuah pergeseran mendasar di dalam perekonomian Indonesia, di mana konsumsi leisure secara konsisten meningkat demikian pesat.

Beberapa sektor yang menggeliat akibat pergeseran ke arah leisure economy ini adalah: rekreasi (atraksi wisata, theme park, kebun binatang, water boom) dan perjalanan wisata (transportasi, travel agent, hotel), restoran (resto dan food services, coffee shop, kafe), hiburan (pub, karaoke, dan kehidupan malam) dan in-home leisure (TV/film/musik berlangganan, games), pertunjukan budaya (konser musik, teater, bioskop), pusat kecantikan dan wellness (yoga, spa, massage), olahraga (aktivitas olahraga dan klub kebugaran).

Tak bisa dimungkiri, meningkatnya pendapatan menganggur (discretional income), arus besar digitalisasi (khususnya munculnya media sosial), dan lahirnya generasi milenial sejak beberapa tahun terakhir menjadi pemicu terbentuknya leisumer. Di era leisure economy, ”every business is a leisure business.”

Artinya, apapun bisnisnya Anda harus memasukkan elemen leisure (sebut saja: leisure value) ke dalam produk dan servis Anda. Leisumer bakal menjadi kekuatan pasar yang luar biasa di Indonesia saat ini dan ke depan. Karena itu, setiap marketers harus tahu betul perilakunya sehingga bisa melayani mereka dengan baik.

Saya mencoba merangkum beberapa ciri dari leisumers, dan berikut ini adalah beberapa di antaranya.

1. Experience-Seeker
By-default, leisumers adalah konsumen yang haus akan pengalaman (experience). Mereka lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman (experience) ketimbang barang (material goods). Bagi mereka, kebahagiaan bukan ditentukan oleh kepemilikan akan rumah besar, mobil mewah, atau karier yang mentereng, tapi mendapatkan pengalaman dan membaginya (baca: memamerkan) ke teman-teman dan orang lain.

Pengalaman memberi mereka memori-memori hidup tak terlupakan yang sangat bermakna bagi hidup mereka. Menghadiri live event (seperti konser musik, lari 10K, atau final sepak bola di GBK) dan real experience (seperti liburan di Bali, dine-out bersama keluarga, atau nongkrong di kafe bersama teman) menjadikan mereka ”terkoneksi” dengan orang lain, komunitas, dan lingkungan.

2. Happiness-Seeker
Leisumers adalah juga happiness-seeker. Bagi mereka waktu adalah aset yang paling berharga. Karena itu, mereka berupaya mengisi setiap momen waktunya untuk menghasilkan emosi positif (positive emotion) dan sesuatu yang fun agar bahagia. Mereka bekerja tak melulu untuk mencari uang dan mengejar status, terutama untuk mencari kebahagiaan.

Mereka memilih pekerjaan dan profesi yang disenanginya. Leisumers sekaligus juga meaning-seeker. Agar bahagia, mereka menginginkan hidupnya bermakna bagi mereka sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Mereka mendambakan a meaningful life.

3. Peers-Driven
Leisumers memilih hotel atau destinasi liburan, menonton konser musik, atau memilih tempat makan untuk dine-out terutama bukan karena iklan di TV atau promo gencar di media. Buying decision-making mereka sangat dipengaruhi oleh teman, kolega, atau reviewdari para influencers.

Mereka sangat peers-driven. Itu sebabnya ”foto pamer liburan” para leisumers di instagram begitu powerful dalam mempengaruhi leisumers yang lain untuk datang ke tempat liburan yang sama. Apa yang saya tulis di buku ”Crowd: Marketing Becomes Horizontal” 10 tahun lalu mengenai ”customers are your trully salesmen” kini betul-betul terjadi di era leisure economy. Konsumen kini betul-betul menjadi salesman paling ampuh bagi produk dan layanan Anda.

4. FOMO Desease
Leisure mengidap penyakit akut yang disebut Fear of Missing Out (FOMO), sebuah ketakutan jika mereka ketinggalan sebuah momen pengalaman yang bernilai. FOMO ini bentunya bisa bermacam- macam, takut jika tidak ikutan heboh nonton konser Ed Sheeran di Singapura. Takut jika tidak bisa merasakan pengalaman bawah laut di Raja Ampat.

Atau takut tidak bisa mengikuti momen pesta kembang api tahun baru di Bunderan HI atau Ancol. Fenomena FOMO inilah yang menjadi sebab kenapa resto-resto kekinian yang experiential seperti OTW atau Warung Upnormal ramai minta ampun di awal-awal launching. Karena para leisumers dihinggapi ketakutan jika teman-teman mereka sudah pernah makan dan nongkrong di resto-resto tersebut, sementara dia sendiri belum pernah. Mereka takut dibilang kurang gaul.

5. Sharing Lifestyle
Leisumers mulai menerapkan sharing lifestyle. Gaya hidup mereka bergeser dari memiliki barang (owning) ke berbagi (sharing). Mereka berhemat dengan cara mengurangi konsumsi yang sifatnya memiliki barang dan mengalokasikan hasil penghematan tersebut untuk konsumsi yang berbasis pengalaman.

Contoh yang kini sudah terlihat adalah mengoleksi CD/ DVD sudah tergantikan oleh koleksi musik/film melalui layanan digital, seperti iTunes, Spotify, Netflix. Leisumer juga mulai memilih layanan Grab atau Gojek ketimbang mempunyai mobil atau motor sendiri.

Ketimbang memiliki ruko sendiri untuk kantor, mereka mulai memanfaatkan kantor bersama (co-working space) yang tiga tahun terakhir menjamur di kota-kota utama Tanah Air.

Saya menyebut 2018 sebagai momentum bangkitnya era leisure economy di Indonesia. Untuk sukses era ini, Anda harus tahu betul isi otak dan hatinya para leisumers. Karena dengan tahu persis perilaku mereka Anda akan mampu merancang strategi yang pas untuk mereka.*

*Artikel ini telah tayang di Koran SINDO

Editor : Zen Teguh