Air Mata Susi Susanti di Barcelona

· Kamis, 02 November 2017 - 14:59 WIB
Air Mata Susi Susanti di Barcelona

Jika menyebut Barcelona yang teringat di benak orang Indonesia tentu sebuah klub sepak bola tersohor asal kota di Catalonia tersebut.

Namun, di sisi lain, kota yang memiliki sejarah budaya yang kaya dan kuil-kuil serta bangunan berkarya arsitek Antoni Gaudi dan Lluis Domenech i Montaner, yang telah dinobatkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO itu menyimpan kisah emas buat bangsa Indonesia.

Ya, sejarah emas itu tertulis pada 25 tahun lalu kala kota itu menjadi tuan rumah Olimpiade 1992. Di sanalah seorang anak bangsa bernama Susi Susanti sukses mengibarkan Merah Putih di posisi paling tinggi di antara bendera negara lainnya.

Pertarungan sengit di final nomor tunggal putri bulu tangkis itu berakhir haru kala lawan dari Korea Selatan Bang Soo-hyun salah mengirim shuttlecock ke luar garis permainan. Susi yang saat itu masih berusia 21 tahun pun langsung bersorak girang menghujamkan kepalnya ke udara.

Setelah nyaris tak mendapat perlawanan berarti mulai dari lawan wakil Thailand Somharuthai Jaroensiri (11-6, 11-1) pada perempat final, menang atas Huang Hua asal China (11-4, 11-1), baru di final itu Susi harus memeras keringat lebih banyak. Dia harus melewati pertarungan tiga set sebelum memastikan kemenangan 5-11, 11-5, dan 11-3.

Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya berkumandang mengiringi emas pertama untuk bangsa ini di ajang tersebut sejak mengikutinya pada 1952. Momen semakin haru kala Susi tak mampu menahan air matanya yang tumpah membasahi pipi saat mendengarkan lagu bangsa dalam prosesi penyerahan medali itu.

“Di situ ada kebanggaan, dan keharuan. Karena selama ini baru pertama kali Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar,” tutur Susi mengomentari momen bersejarah tersebut. 

“Jadi selama saya ada di Olimpiade itu, saya tinggal di komplek atlet yang saya dengar selalu lagu kebangsaan Amerika Serikat, China, Rusia, atau Jerman, tapi saat momen itu saya berada di podium paling atas mendengarkan lagu kebangsaan dan Merah Putih berkibar paling tinggi. Itu sebuah kebanggaan luar biasa. Apalagi saat kita ada di luar negeri,” paparnya.  

Berikutnya, emas kedua Indonesia dipersembahkan oleh Alan Budikusuma. Namun, emas dari tunggal putra itu sudah bisa dipastikan sebelumnya karena terjadi All Indonesian Final antara Alan kontra Ardy B Wiranata. Dalam laga pamungkas itu, Alan menang dua set langsung, 15-2 dan 18-13. Jadilah bulutangkis menyumbang sepasang emas buat Indonesia di tanah Catalonia, plus dua perak dari Ardy serta ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan.


Reporter: Abdul Haris

Editor: Abdul Haris

Editor : Abdul Haris

TAG :