Ternyata Timnas Indonesia Masuk Buku Rekor Piala Dunia

Alip Sutarto · Senin, 20 November 2017 - 09:58 WIB
Ternyata Timnas Indonesia Masuk Buku Rekor Piala Dunia

Tentu, kebanyakan kita sudah tahu bahwa tim nasional Indonesia pernah mencicipi turnamen sekelas Piala Dunia yakni pada 1938. Namun, tahukah Anda bahwa kala itu ada sejumlah rekor yang tercatat di sejarah turnamen paling elite antarnegara dunia itu?

Ya, pada Piala Dunia 1938 di Prancis itu, Indonesia yang tampil dengan nama Hindia Belanda karena masih dalam masa penjajahan Belanda, menjadi tim Asia pertama yang tampil di Piala Dunia. Hindia Belanda bisa melaju ke Prancis setelah Jepang yang menjadi lawan di kualifikasi mengundurkan diri.

Dan, meski kini sudah merdeka dari Belanda dan sudah menggunakan nama negara sebagai Indonesia, Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) masih tetap mengakui bahwa catatan itu tetap milik tim Garuda sebagai suksesor Hindia Belanda.

Kala itu, Hindia Belanda dinakhodai Arsitek asal Belanda Johannes van Mastenbroek, dan dikomandoi Achmad Nawir sebagai kapten tim. Bukan kostum berwarna Merah Putih yang dikenakan tim saat itu melainkan kaos berwarna oranye, dan celana putih, mirip warna kebesaran timnas Belanda saat ini.

Sayang, pada laga pertama Hindia Belanda langsung bertemu tim favorit Hungaria yang memang menjadi salah satu kekuatan utama dunia pada era itu. Alhasil, kekalahan telak pun sulit dihindari. Hindia Belanda kandas 0-6.

Sistem gugur yang jadi format turnamen saat itu menjadikan laga itu menjadi satu-satunya laga yang pernah dimainkan Indonesia di Piala Dunia. Sehingga, Indonesia menyandang rekor Piala Dunia menjadi tim paling sedikit yang pernah tampil di kejuaraan itu sebanyak 1 kali, dan yang paling sedikit cetak gol (0). Indonesia juga menjadi tim dengan rata-rata kebobolan per laga paling banyak (6).

Baru pada 1958, tim ini mulai turun di Piala Dunia dengan nama Indonesia pada babak kualifikasi. Di tangan Pelatih dari berpaspor Yugoslavia-Kroasia Antun Pogacnik Tim Garuda sukses melumat China 2-0 pada leg pertama di Stadion Ikada, Jakarta, 12 Mei 1957, melalui dua gol Rusli Ramang. Pada laga kedua di Beijing, Ramang kembali cetak dua gol, yang disusul gol Endang Witarsa, Namun tetap tak mampu menyelamatkan Indonesia dari kekalahan 3-4.

Kala itu, Indonesia dan China punya poin sama-sama 2, akhirnya penentuan diambil melalui play-off pada tempat netral di Burma (saat ini Myanmar). Namun karena skor 0-0 dan sistem adu penalti belum diterapkan saat itu, maka Indonesia ditetapkan sebagai pemenang karena unggul selisih gol. Sayang di putaran kedua Indonesia didiskualifikasi karena menolak menghadapi Israel.

Sejak saat itu, Indonesia absen panjang pada turnamen tersebut karena situasi politik yang tak memungkinkan, baik di dalam maupun luar negeri. Tim Garuda baru kembali ke kancah tersebut pada 1974.

Editor : Abdul Haris