Harta Panas

Komaruddin Hidayat · Jumat, 11 Mei 2018 - 20:36 WIB


Komaruddin Hidayat

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

HATI-hati dengan harta kekayaan yang kita miliki, salah satunya dari warisan orangtua. Agama selalu mengajarkan untuk berdoa agar mendapatkan rezeki yang halal dan berkah. Bukan harta haram dan panas yang tidak mendatangkan ketenteraman dan keberkahan.

Banyak kasus di sekeliling kita yang menjadi pembelajaran sangat berharga. Ketika orangtuanya meninggal, tanah kubur belum kering, anak-anaknya sudah bersengketa, berebut warisan. Peristiwa demikian ini akar permasalahannya ada dua. Satu, orangtua tidak mengantisipasi untuk membagi warisan jika sewaktu-waktu meninggal. Yang demikian tentu kita maklumi, karena kematian itu rahasia Tuhan, tidak tahu kapan terjadi.

Namun ternyata ada beberapa orangtua yang sudah berwasiat sebelum meninggal. Semua anggota keluarga dikumpulkan, didengarkan aspirasi dan komitmennya jika suatu saat orangtua meninggal agar tidak bertengkar soal warisan.

Orangtua berwasiat, jangan sampai anak-anak berebut warisan, karena akan menyiksa di alam kuburnya. Sebaliknya, agar memanfaatkan warisan itu di jalan Tuhan untuk mendatangkan dividen pahala kebaikan bagi orangtua yang telah meninggal, atau disebut amal jariyah, maupun bagi yang masih hidup.

Akar penyebab kedua mengapa ahli waris bertengkar, karena secara ekonomi belum pada mandiri dan tidak memiliki pendidikan serta akhlak mulia. Jika anak-anak memperoleh pendidikan yang baik dan hidup mandiri secara ekonomi, pada umumnya harta warisan tak akan menjadi sumber sengketa.

Mereka malu memperebutkan harta yang bukan hasil jerih payah dan keringat sendiri. Makanya keluar nasihat orangtua, harta warisan itu barang halal yang panas. Akan lebih panas lagi jika ternyata harta yang diwariskan itu dulunya didapat dengan jalan tidak halal oleh orangtuanya.

Orangtua pasti lebih bahagia meninggalkan keturunan yang berpendidikan, bisa hidup mandiri, diterima dan dicintai lingkungan sosialnya. Seringkali kita saksikan, hanya dalam hitungan bulan dan tahun harta warisan habis, itu pun didahului dengan pertengkaran dalam pembagiannya.

Anak laki-laki minta bagian lebih besar dari perempuan, padahal secara ekonomi lebih mapan ketimbang saudara perempuannya, sementara pihak perempuan memandang tidak adil karena anak laki-laki lebih banyak menghabiskan uang sewaktu orangtuanya masih hidup.

Ada contoh orangtua yang menarik direnungkan. Sebelum meninggal soal warisan sudah diselesaikan semuanya. Orangtua hidup dengan jatah dirinya. Bahkan dipesankan pada anak-anaknya, kalau satu saat meninggal hartanya agar disedekahkan untuk kepentingan masyarakat, anak-anak jangan mengambilnya karena semua sudah mendapat bagian dan sudah mandiri, sekalipun tidak kaya raya.

Cerita serupa ini dulu juga sering dilakukan orangtua yang hendak pergi haji sewaktu masih naik kapal. Ketika pergi haji sudah siap meninggal di perjalanan atau di Tanah Suci, yakin bahwa dia berjalan di atas jalan Tuhan, kalau meninggal langsung masuk surga. Agar harta warisannya tidak menjadi sumber fitnah dan pertengkaran keluarga, orangtua sudah meninggalkan wasiat tentang pembagian hartanya.

Ada juga cerita inspiratif lain tentang harta warisan. Ada orangtua wafat meninggalkan anak tiga dan sawah yang cukup luas. Atas nasihat orangtua, sebaiknya jangan dibagi-bagi sawahnya karena masing-masing pasti akan memperoleh bagian yang kecil. Disarankan agar digarap dan diberdayakan bersama, dijadikan modal usaha bersama, lalu siapa yang lagi memerlukan uang yang besar, misalnya untuk ongkos bangun rumah, maka dia diutamakan, dibangunkan bersama-sama.

Selanjutnya, apa yang terjadi? Ketiga anaknya memiliki rumah masing-masing, prestasi sekolahnya bagus, harta sawah warisannya utuh, bahkan kekayaannya bertambah. Zakat dan amal sosialnya tak pernah dilupakan. Kalau saja orangtua bisa mengintip dari alam kubur, tentu merasa bahagia.

*Artikel ini pernah terbit di Koran SINDO

Editor : Zen Teguh

KOMENTAR