Puasa dan Pluralitas Agama

Abdul Mu'ti · Kamis, 17 Mei 2018 - 17:16 WIB


Abdul Mu'ti

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah;
Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

PUASA adalah ibadah yang wajib ditunaikan bagi orang mukallaf. Seseorang disebut mukallaf apabila memenuhi lima hal: beragama Islam, berusia dewasa (balig), berakal sehat, menerima dakwah, dan merdeka. Sesuai hukum taklifi, ibadah tertentu memiliki ketentuan khusus yang tidak berlaku pada ibadah yang lainnya.

Ibadah puasa hanya diwajibkan bagi kaum beriman: orang Islam yang melaksanakan ajaran agamanya."Wahai kaum beriman, wajib bagimu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat terdahulu agar kamu menjadi kaum yang bertakwa." (QS Al-Baqarah:183).

Puasa bersifat ekslusif: selain diperuntukkan khusus bagi kaum beriman, puasa memiliki keistimewaan yang diberikan oleh Allah khusus kepada hamba-Nya. Di dalam sebuah Hadits disebutkan: Puasa itu urusan-Ku, dan Akulah yang memiliki otoritas mutlak untuk menilai dan menetapkan pahalanya.

Tidak seluruh Muslim wajib menunaikan puasa Ramadan. Mereka yang sedang bepergian, sakit, atau fisiknya ringkih mendapat dispensasi dan alternasi dengan meng-qadha di luar bulan Ramadan atau membayar fidyah (QS Al-Baqarah: 184). Islam adalah agama yang terbuka; tidak memaksa (QS Al-Baqarah: 256), ringan; sesuai kemampuan manusia (QS Al-Baqarah: 286), mudah; tidak sulit dan mempersulit (QS Al-Baqarah: 185; QS Al-Hajj: 78).

Ketentuan syariat tersebut menimbulkan realitas sosial dan pluralitas agama. Pertama, kaum Muslim yang berpuasa dan taat menjalankan ajaran agamanya. Kedua, masyarakat Muslim yang mematuhi ajaran agamanya tetapi tidak berpuasa karena keadaan dan kondisi fisiknya. Ketiga, masyarakat yang mengaku Muslim tetapi tidak berpuasa karena membangkang ajaran Tuhan. Keempat, masyarakat non-Muslim yang tidak berpuasa karena keyakinan dan tidak ada kewajiban menunaikan.

Kematangan Beragama

Puasa adalah ibadah orang dewasa. Pertama, kewajiban puasa hanya berlaku bagi mereka yang baligh secara fisik, psikis, dan teologis. Balig secara fisik adalah mereka yang berusia dewasa ditandai dengan mulai berkembangnya ciri-ciri sekunder pria dan wanita dan fungsi-fungsi reproduksi. Anak-anak tidak diwajibkan berpuasa.

Secara psikis seseorang dikatakan balig apabila memiliki tiga kemampuan intelektual. Pertama, kapasitas intelektual: tingkat pengetahuan yang memungkin seseorang melaksanakan sesuatu dengan baik. Kedua, moralitas intelektual: kemampuan intelektual yang memungkinnya membedakan nilai dan perilaku yang baik dan buruk serta benar-dan salah. Ketiga, kesadaran intelektual: berakal sehat dan melaksanakan sesuatu dengan penuh kesadaran.

Orang yang memiliki gangguan jiwa, mabuk, tidur, dan keadaan lain di mana akal tidak berfungsi dengan baik terlepas dari kewajiban agama. Seseorang dapat disebut baligh secara teologis apabila telah menerima dakwah Islam. Tidak disebut mukallaf mereka yang tidak mengamalkan Islam karena belum pernah menerima pelajaran tentang Islam.

Kedua, sebagai implementasi dan aktualisasi ibadah orang dewasa, puasa meniscayakan kematangan beragama. Menurut Gordon Allport sebagaimana dikutip Ismail (2007:4) kematangan beragama memiliki enam kriteria:(1) differensiasi: teguh memeluk suatu agama, tetapi terbuka terhadap pemeluk agama lain; (2) dinamis dan optimistis: menjadikan agama sebagai tujuan dan kekuatan untuk menyelesaikan berbagai masalah kehidupan; dan (3) konsisten dan produktif: berperilaku sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama; (4) komprehensif dan terbuka: mampu memahami dan menerima perbedaan pendapat serta menghindari konflik dengan mereka yang berbeda; (5)pandangan yang integral: mampu menyelaraskan dan mengintegrasikan agama dengan kehidupan; (6) heuristik: senantiasa meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama.

Saling Menghormati

Kematangan beragama merupakan proses yang tingkatan dan pencapainnya berbeda-beda. Sesuai Al-Baqarah: 183, motivasi dan kualitas puasa ditentukan oleh “faktor dalam”: iman dan ikhlas.

Akan tetapi, dalam pelaksanaan dan perkembangan memerlukan penguatan dari luar: lingkungan fisik dan sosial yang kondusif. Dalam konteks ini, diperlukan kedewasaan dan kearifan agar mereka yang tidak berpuasa dapat memahami dan menghormati yang sedang berpuasa. Dalam hal tertentu, mungkin perlu kebijakan pemerintah, kantor, dan perusahaan swasta yang memungkinkan kaum Muslim menunaikan ibadah dengan sempurna.

Pada sisi yang lain, Muslim yang berpuasa hendaknya bersikap dewasa. Puasa merupakan panggilan iman dan kesadaran pribadi. Karena itu tidak perlu meminta dispensasi dan berbagai keistimewaan. Mereka yang berpuasa juga seharusnya mampu menghormati, meneriman, melayani, dan mengakomodasi mereka yang tidak berpuasa.

Biarlah warung makan dan restoran tetap buka sebagaimana mestinya. Sejatinya, pengurangan jam kerja, pembatasan pelayanan publik, dan pemasangan tabir rumah makan tidak diperlukan. Niat utama berpuasa adalah ibadah. Tidak perlu manja. Mari melaksanakan puasa dengan ikhlas mengharap rida Allah SWT. Mari membangun toleransi dan saling menghormati mereka yang tidak berpuasa baik Muslim atau non-Muslim.

 

Editor : Zen Teguh

KOMENTAR