Mudik, Media Sosial, dan Tahun Politik

Eko Ardiyanto · Rabu, 13 Juni 2018 - 15:28 WIB
Mudik, Media Sosial, dan Tahun Politik


Eko Ardiyanto

Jurnalis / Dosen Ilmu Komunikasi

"Menhub Budi Karya Sumadi:Pesan Presiden Jokowi mudik tahun ini harus lebih baik.”

ARUS mudik 2018 mulai terasa sejak Sabtu (9/6/2018) akhir pekan lalu, setelah pemerintah dan beberapa kantor swasta menetapkan libur cuti bersama mulai 11 hingga 20 Juni 2018. Dari pantauan berita mudik di media, tidak ada laporan kemacetan yang luar biasa saat warga pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1439 H.

Strategi libur cuti bersama dinilai ampuh untuk memecah pemudik dalam memilih waktu kembali ke kampung halaman. Selain libur cuti bersama yang panjang, infrastruktur jalan Tol Trans Jawa yang sebagian besar sudah rampung juga menjadi faktor lancarnya pemudik dari Jakarta ke beberapa daerah di Jawa.

Bagi masyarakat Indonesia yang tiap tahun selalu menjadi saksi kisah perjalanan mudik baik secara langsung maupun melalui media konvensional (televisi, online dan koran) dan media sosial, mudik kali ini terasa punya “taste” yang berbeda dengan mudik-mudik sebelumnya. Jika dulu mudik diwarnai kemacetan berjam-jam dan penuh drama, terakhir adalah episode mudik Brexit (Brebes Exit) tahun 2016, mudik saat ini terbilang tak ada lagi drama yang fenomenal di era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

“Taste” yang terasa kali ini, justru sangat kental dibumbui dengan “perang” di media sosial dan spanduk-spanduk yang bertuliskan “Anda sedang melewati jalan tol Pak Jokowi” di beberapa titik jalur mudik ke Jawa Tengah. Memang harus diakui, beberapa proyek jalan Tol Trans Jawa dan Sumatera diselesaikan di era Presiden Jokowi, tapi bukan berarti presiden sebelum Jokowi tidak memiliki andil dalam pembangunan infrastruktur jalan tol ini.

“Taste” mudik yang berbeda dengan mudik tahun-tahun sebelumnya ini terbilang wajar di tahun politik ini, yang akan dimulai dari pelaksanaan pilkada serentak 27 Juni mendatang dan pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden 2019 yang rencananya akan dimulai pada 4 Agustus 2018 nanti. Dua poros yakni, kelompok #2019GantiPresiden dan poros yang tetap mencalonkan Jokowi sebagai presiden pasti akan terus berperang opini memengaruhi masyarakat, terutama di media sosial.

Media Sosial

Penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi massa dan kampanye politik di Indonesia memang sudah dimulai sejak Pilpres 2014 lalu dan dapat dipastikan di 2019 nanti eskalasinya akan jauh meningkat. Menurut Taprial & Kanwar (2012), media sosial memiliki beberapa keunggulan dibandingkan media konvensional. Keunggulan media sosial antara lain;

1. Accessibility, media sosial lebih murah dan lebih mudah diakses oleh penggunanya. Media sosial juga lebih mudah digunakan dan tidak membutuhkan kemampuan khusus. Siapa pun di media sosial dapat berbicara tentang apa saja dan dapat menginisiasi percakapan dengan siapa saja.

2. Speed, konten yang dibuat di media sosial dapat diakses semua orang yang berada di dalam jejaring atau forum atau kelompok masyarakat segera setelah dipublikasikan. Penulis dapat berkomunikasi dengan audiensnya tanpa adanya faktor ekternal yang dapat mempengaruhi pesan yang dikirim.

3. Interactivity, media sosial dapat mendorong terjadinya komunikasi dua arah ataupun multiple communication channels. Pengguna dapat berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, bertanya dan menjawab, berdiskusi tentang suatu produk tertentu, membagi pendapat dan hal-hal lain yang dianggap menarik untuk dilakukan.

4. Reach, internet menawarkan akses yang tidak terbatas pada semua konten yang tersedia di dalamnya. Siapa saja dapat mengakses konten tersebut darimana saja dan siapa saja dapat juga menghubungi atau berkomunikasi dengan siapa saja dimana saja. Media sosial menawarkan fasilitas yang sama bagi seluruh penggunanya yaitu dapat membagikan informasi apapun dengan siapapun yang mereka kehendaki.

Namun di balik keunggulan media sosial ini, para pengguna sebagai komunikator haruslah berhati-hati saat menyampaikan informasi, karena jangan menjadi informasi Hoax atau malah menyebarkan hate speech, jika ini yang dilakukan maka bersiaplah berhadapan dengan hukum. Di musim mudik dan balik nanti, perang di media sosial juga diprediksi akan marak disebarkan kedua poros calon presiden. Kita akan menyaksikan “meme”, poster maupun spanduk saling sindir.

Tahun Politik

Pernyataan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat melepas tim mudik MNC Media beberapa waktu lalu, yang menyampaikan pesan Presiden Jokowi agar mudik 2018 kali ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya tentulah bukan pesan “kosong”.

Presiden Jokowi tentu tahu, jika mudik kali ini berlangsung lancar dan masyarakat puas maka citra positif akan didapat Jokowi yang bakal mencalonkan diri lagi sebagai Capres. Jika mudik kali ini terbilang lancar, maka pertaruhan selanjutnya adalah saat arus balik nanti, aparat terkait harus bisa mengantisipasi kemacetan yang bakal terjadi, karena saat arus balik tujuannya hanya satu yakni Jakarta (Jabodetabek) saat warga dari daerah berbondong-bondong kembali sebelum cuti bersama berakhir.

Kesuksesan penanganan arus mudik dan balik ini akan menjadi catatan tersendiri bagi pemerintahah Presiden Joko Widodo karena mudik 2018 ini adalah mudik terakhir sebelum pelaksanaan pemilu presiden yang ditetapkan KPU pada 19 April 2019 mendatang.

Editor : Zen Teguh