Merengkuh Kemuliaan Ramadan dan Menjemput Kemenangan

Azhar Azis · Kamis, 14 Juni 2018 - 15:07 WIB


H Azhar Azis
Jurnalis iNews.id

BANYAK peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadan dalam perspektif sejarah. Deretan peristiwa-peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah emas kemenangan umat Islam di bulan Ramadan.

Pertama, perang Badar. Perang ini dinamai peristiwa al-Furqan (pemisahan) karena saat itu Allah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Dalam peristiwa di tahun kedua hijriyah ini, Allah SWT memenangkan umat Islam meski jumlah pasukannya sangat sedikit.

Kedua, Fathu Makkah atau penaklukan Kota Makkah. Dalam peristiwa yang terjadi di bulan Ramadan tahun kedelapan hijriyah ini, Makkah menjadi negeri Islam dari tirani kemusyrikan dan rezim orang-orang musyrik. Fathu Makkah menjadi momentum terbukanya gelombang manusia dalam gerakan besar-besaran dan secara berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Dua peristiwa tersebut menjadi titik tolak kemenangan umat Islam di bulan Ramadan. Setelah itu, masih tercatat dalam sejarah berbagai kemenangan umat Islam yang diraih bertepatan dengan bulan Ramadan. Salah satunya bagi umat Islam di Tanah Air, adalah kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan yang dideklarasikan pada 17 Agustus 1945 atau bertepatan 9 Ramadan 1334 Hijriah.

Keistimewaan Ramadan juga mencatat peristiwa agung yang tak kalah penting adalah turunnya Alquran. Peristiwa mulia ini terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surah al-Baqarah Ayat 185.

Di bulan ini Kitab Suci umat Islam turun di bulan yang mulia, melalui perantara malaikat yang mulia, kepada Nabi yang mulia. Dengan kesucian Alquran yang turun di bulan Ramadan menjadikan bulan ini sebagai bulan suci sebulan penuh.

Kitab yang suci ini diantarkan oleh Malaikat Jibril sehingga ia menjadi penghulu malaikat kepada Nabi Muhammad SAW yang juga menjadi penghulu para nabi.

Dari rentetan keistimewaan Ramadan ini tak berputus kemuliaan dan keberkahannya bagi umat Nabi Muhammad SAW hingga kepada kita umat Islam. Beruntunglah orang-orang yang merengkuh kemuliaan Ramadan hingga datangnya momentum kemenangan di penghujung bulan ini yang ditandai terbitnya 1 Syawal.

Setelah bilangan bulan puasa genap 29 atau 30 hari, terbitlah 1 Syawal sebagai penanda datangnya hari raya Idul Fitri. Pada hari ini, umat Islam gegap gempita menyambutnya dengan takbir sejak setelah magrib hingga tenggelamnya kembali matahari. Inilah hakikat kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh menahan diri dari hawa nafsu. Kita dilatih menahan diri dari makanan dan minuman halal pada siang harinya serta mengalahkan hawa nafsu berbagai godaan.

Dalam Alquran Surat Yusuf Ayat 53, disebutkan bahwa sesungguhnya nafsu selalu mendorong manusia pada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT (innannafsa la-ammaaratun bissuui ilaa maa rahima rabbi).

Nafsu terus mendorong manusia pada salah satu dari dua kecenderungan yang dimiliki manusia, yaitu kecenderungan berbuat buruk dan kecenderungan berbuat baik. Allah SWT berfirman, "Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan). Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannnya." (QS Asysams, 91:7-8)

Dengan mengekang nafsu terhadap kecenderungan berbuat kejahatan, dengan sendirinya kita akan terbiasa pada kecenderungan yang kedua, yaitu ketaqwaan yang meliputi pebuatan baik dalam hati, tindakan, dan percakapan.

Bulan Ramadan adalah momentum terbaik untuk mengekang nafsu buruk tersebut. Karena itulah Ramadan disebut sebagai madrasah atau pelatihan selama sebulan penuh. Ramadan juga disebut sebagai bulan pembakaran yaitu membakar segala tabiat dan kebiasaan buruk menuju penyucian diri.

Ibarat sebuah besi yang bengkok, dia lebih gampang dan hanya bisa diluruskan jika dibakar atau dipanaskan. Dengan pembakaran itulah seorang muslim lebih mudah meluruskan jiwanya kepada yang baik atau dalam mencapai kecenderungannya yang baik.

Dalam buku berjudul Tabarruk, Anwauhu wa Ahkamuhu karya Dr Nashir bin Abdurrahman, Ramadan disebutkan sebagai bulan pembakaran dosa-dosa. Ramadan berasal dari akar kata ar-ramadha' yang berarti sangat panas.

Dari penjelasan itu dapat diketahui bahwa hakikat puasa adalah membakar segala keburukan. Dari sisi kesehatan, puasa dapat membakar lemak yang menumpuk pada tubuh hingga bersih. Puasa juga membakar racun dan endapan yang menumpuk serta cairan berbahaya.

Kita ketahui bahwa puasa memang melemahkan tubuh tetapi dia mengokohkan iman. Puasa juga mengeringkan kerongkongan tetapi ia menyiram jiwa dengan cahaya iman dan taqwa. Kosongnya lambung dan perasaan lapar akan menghancurkan emosi jiwa dan memperkuat aspek spiritual. Dengannya seorang hamba sangat mudah segera taat dan menjauhi kemungkaran.

Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Dr Anas Ahmad Karson, puasa diperintahkan untuk menahan jiwa dari perbuatan maksiat. Orang yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan kemaksiatan serta puasanya tidak mengubah perbuatan buruknya maka puasanya hanyalah karena tradisi.

Padahal Rasulullah bersabda, "Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan sia-sia maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR Buhari)

Pengaruh puasa yang paling besar dalam penyucian jiwa adalah melatih jiwa untuk menyempurnakan penghambaan kepada Allah. Puasa adalah ibadah terbaik karena tidak bercampur riya dan sum'ah (ingin didengar).

Setelah puasa dan qiyamullail disempurnakan, semua amal salih telah diupayakan, dan zakat ditunaikan, semoga kita menjadi hamba-hamba dengan predikat muttaqin (orang yang bertaqwa).

Tibalah kita pada hari kemenangan dengan jiwa yang bersih setelah menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh. Kemenangan yang kita capai adalah kemenangan dari sisi peribadatan yang sempurna dan jihad melawan nafsu.

Hari kemenangan ini hendaknya juga menjadi refleksi bagi umat Islam atas berbagai peristiwa kemenangan-kemenangan yang dicapai dalam sejarah Rasulullah SAW. Hari kemenangan ini dirayakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil. Kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, semuanya sama dalam pencapaian kemenangan agung ini.

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri, taqabbalallahu minna waminkum, dan mohon maaf atas segala khilaf, semoga kita semuanya dikembalikan pada jiwa yang suci demi menjemput kemenangan yang hakiki di sisi Allah SWT di akhirat kelak. Amin Yaa Rabbal Alamin.*

Editor : Zen Teguh

KOMENTAR