Menakar Trust dalam Gonjang-ganjing Megathrust

Wahyu T Setyobudi · Rabu, 07 Maret 2018 - 13:12 WIB
Menakar Trust dalam Gonjang-ganjing Megathrust


Dr Wahyu T Setyobudi MM CPM
Ketua Research Center and Case Clearing House (RC-CCH) PPM School of Management

KONON kabarnya, ada seorang anak gembala ditugaskan menjaga kawanan domba. Di tengah malam buta, dia berteriak histeris,“Serigala menyerang kawanan!”, katanya. Ketika semua terbangun, anak muda pun terbahak. Maka kemudian, ketika serigala benar datang, tak seorangpun peduli dan domba-domba menjadi korban.

Cerita di atas merupakan pengantar tidur yang biasa diceritakan kepada anak-anak untuk menunjukkan betapa penting alarm keselamatan, dan betapa bahaya menjadikan alarm keselamatan tersebut sebagai bahan mainan.

Dalam beberapa minggu ini, perasaan warga Jakarta diaduk-aduk oleh gonjang-ganjing isu gempa megathrust berkekuatan hingga 8,7 skala richter, yang diramalkan mengguncang Ibu Kota negara ini. Sejak 28 Februari 2018, berita ancaman bencana tersebut beredar viral melalui media sosial dan aplikasi pesan. Sementara itu, media-media mainstream juga sepakat memberitakan hal yang sama.

Menanggapi bola liar ini, BMKG (iNews.id, 2 Maret 2018) mengeluarkan pernyataan lanjutan yang bernuansa melembutkan isu itu dengan kalimat, “Kita pun belum mampu memastikan apakah gempa megathrust M 8,7 akan benar-benar terjadi, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya”. Jadi, jika demikian, seberapa efektifkah peringatan tersebut? apakah ini false alarm?

Alarm bencana bukan main efeknya pada masyarakat. Efeknya membentang dari skala terkecil, yakni ketakutan dan kecemasan, hingga ke skala yang lebih besar, kepanikan yang mengancam jiwa. Dalam kondisi panik, manusia seringkali tidak dapat berpikir dengan jernih, dan mengutamakan insting menyelamatkan diri yang justru sering kontraproduktif bagi dirinya atau orang lain.

Akibat di atas merupakan dampak langsung. Akibat tak langsung dari alarm bencana yang justru mengkhawatirkan adalah pengabaian, sebagai mekanisme alamiah pertahanan diri secara psikologis, atas berita yang tidak menyenangkan.

Oleh karenanya, aspek proporsionalitas dalam penyampaian alarm bahaya sebagai bagian dari komunikasi bencana memegang peranan sentral. Perlu kebijaksanaan (wisdom) dalam memilah informasi mana dan bagaimana menyampaikannya. Pihak yang berwenang perlu menakar mana info yang benar, dan mana info yang baik untuk disampaikan, sehingga tidak menimbulkan kesan menakut-nakuti.

Seorang dokter yang bijaksana, pasti tidak akan mengungkapkan seluruh prognosis penyakit pada pasiennya. Selain karena pasien tidak memiliki kemampuan pengetahuan yang cukup untuk memahami latar belakang prognosis tersebut, juga karena dampak buruk yang justru bisa muncul karena kecemasan berlebihan.

Prinsip utama komunikasi bencana menurut Rudianto dalam Jurnal Simbolika (2015) adalah mereduksi ketidakpastian, sehingga dalam keadaan mendesak, masyarakat memiliki cukup informasi untuk siap, dan mengambil tindakan penyelamatan. Terkait hal itu, saya dengan pengetahuan ilmu kebumian yang sangat terbatas, belum bisa memahami bagaimana kalimat belum bisa ditentukan kapan, di mana, dan seberapa kuat, dapat memberikan kejelasan yang cukup. Kalimat ini sangat ambigu, dapat ditafsirkan apapun, tanpa falsifikasi.    

Mengenai kesiapan menghadapi gempa, terutama perilaku seperti apa yang harus dilakukan masyarakat, asesmen ketahanan gedung dan struktur bangunan, hal tersebut memang merupakan PR yang menunggu dijalankan bersama. Suatu pekerjaan yang berkelanjutan, karena posisi geografis Jakarta menuntut kewaspadaan. Bukan suatu pekerjaan yang bersifat musiman, karena isu tertentu (baca: gempa besar), namun harus menjadi continous concern.

Sejak dini, anak-anak dididik untuk terbiasa mengamati keadaan sekitar, menakar risiko, serta perhatian pada aspek keselamatan seperti letak pintu darurat, tangga darurat, zona kumpul, dan lain sebagainya. Pembinaan pada anak dan penduduk Jakarta seperti ini tentu bukan hanya terkait gempa, namun seluruh kejadian darurat yang lebih besar kemungkinan terjadinya, seperti kebakaran, banjir, angin, dan gempa.

Harapan saya, lembaga yang terkait dan berwenang seperti BMKG terus membangun dirinya dengan kematangan dalam menyuplai informasi kepada masyarakat, serta mengukur tingkat kepercayaan masyarakat atas informasi yang diberikan. Mulai dari yang paling sederhana, peramalan cuaca, hingga kegempaan.

Editor : Zen Teguh