TNI AU dan Sistem Pertahanan Udara Modern

Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati ยท Senin, 09 April 2018 - 14:59 WIB
TNI AU dan Sistem Pertahanan Udara Modern


Susaningtyas Kertapati

Pengamat militer dan intelijen

PIDATO Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna bahwa pensiunan TNI AU mendapat rumah pribadi tentu harus disyukuri. Hal lain interoperabilitas harus didukung baik dalam politik anggaran maupun implementasinya. TNI netral dalam pemilu juga suatu keniscayaan.

Jika TNI AU konsisten dengan konsep Netwok Centric Operation, maka langkah awal adalah mulai menggeser kekuatan tempur utama TNI AU di wilayah perbatasan, Ini penting mengingat jarak jelajah pesawat TNI AU sangat ditentukan dari mana pangkalan awalnya untuk airborne.

Jadi, sesuai visi Presiden Joko Widodo, Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, maka TNI AU dapat mengajukan konsep menjaga kedaulatan seluruh perairan dan daratan Indonesia selama 24 jam berdasarkan UNCLOS 1982 yang telah diratifikasi menjadi UU Nomor 17 Tahun 1985.

TNI AU juga dapat mengajukan konsep kedaulatan di udara sampai dengan batas ketinggian yang diatur menurut hukum internasional dan nasional hingga ruang angkasa.

Faktor ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah dinamika konflik Laut China Timur dan Laut China Selatan, di mana dua negara yang menjadi aktor utama yaitu Korea Utara dan China telah mengembangkan rudal nuklir jarak jauh.

TNI AU harus mengembangkan konsep Sistem Pertahanan Udara yang modern dan canggih melindungi keselamatan NKRI dengan menyiapkan sistem deteksi dini dan sistem interceptor. Perlu dikaji kedua sistem tersebut untuk mampu menangkis datangnya rudal nuklir tersebut di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Dari ketiga faktor tersebut, sangat penting bagi TNI AU memodifikasi MEF (minimum essential force atau standar minimum pengadaan), seperti penambahan radar GCI (ground control interceptor) dan radar EW (early warning) di seluruh Indonesia terutama bagian timur Indonesia.

Kemudian, menambah skuadron udara tempur agar mampu melaksanakan patroli udara rutin selama 24 jam, minimal frekuensi terbang malam sama dengan terbang siang.

Jadi operational requirement dan technical specification kedua jenis radar tersebut tidak hanya untuk dog fight di udara antara pesawat TNI AU melawan pesawat musuh, tetapi juga harus mampu dog fight pesawat TNI AU menangkis rudal nuklir. Oleh sebab itu, penting pesawat-pesawat tempur TNI AU dipersenjatai rudal antirudal jarak jangkau minimal 25 Nm (48 km).

Untuk personel yang harus ditingkatkan kapasitasnya adalah mengirim para perwira muda TNI AU menjadi master dan doktor ilmu ruang angkasa (space science) di luar negeri.

Tidak hanya sampai perbatasan. Harus bisa ke laut internasional karena doktrin pertahanan Indonesia adalah defense active. Jadi penting, menekankan peningkatan kadar intelektual perwira TNI AU.

Pergeseran Lanud meliputi pembangunan landasan pacu baru berikut ground facilities dan kedua jenis radar GCI dan EW. Setelah tahapan tersebut baru digeser Skuadron Pesawat Tempurnya.

Yang patut dilakukan adalah melakukan simulasi skema penganggaran MEF dengan mengubah sasaran prioritas dan efisiensi anggaran rutin operasional. Dirgahayu TNI AU.

Editor : Kastolani Marzuki