Evita, Maradona, dan Messi

Abdul Haris · Jumat, 22 Juni 2018 - 16:39 WIB


ABDUL HARIS
Jurnalis iNews.id

 

 

Jangan menangis untukku, Argentina.

Itu tidak akan mudah, kamu akan menganggapnya aneh.

Ketika aku mencoba menjelaskan bagaimana perasaanku.

Bahwa aku masih membutuhkan cintamu setelah semua yang aku lakukan.



Begitulah terjemahan penggalan lirik lagu "Don't cry for me, Argentina" yang pertama kali dinyanyikan Julie Covington pada 1976. Lagu ini didedikasikan untuk Eva Peron, istri kedua Presiden Argentina Juan Domingo Peron.

Meski tidak pernah secara resmi terpilih menjadi tokoh politik, sebagai Ibu Negara, wanita yang juga popular dengan panggilan Evita itu punya kekuasaan dan pengaruh lebih kuat dalam pemerintahan daripada siapapun, kecuali suaminya.

Evita juga punya karisma yang sangat kuat di antara kaum miskin dan kelas pekerja Argentina sejak 1946 hingga wafatnya yang mengenaskan pada 1952.

Dua dekade kemudian, Argentina kembali punya sosok karismatik yang dipuja, yakni Diego Armando Maradona. Sejak masih berusia 16 tahun pesona pemain bertinggi 165 cm itu sudah terlihat. Namun, kebintangannya baru benar-benar menggema pada Piala Dunia 1986 saat dia dengan kejeniusannya mampu membawa Argentina menjadi juara.

Setelah era Maradona, hampir setiap ada pemain bintang yang memesona kerap disebut titisan Maradona. Namun, tak ada yang benar-benar pas sebelum akhirnya muncul seorang Lionel Messi.

Lahir di Rosario, namun besar di Barcelona membuat pemain yang kemudian dijuluki La Pulga alias Si Kutu karena kelincahannya itu bisa membela dua negara berbeda, Argentina atau Spanyol. Namun, dia memilih tanah kelahirannya karena kecintaan pastinya.  

Balasan cinta pun diberikan warga negara yang terkenal dengan tari Tangonya itu. Bukan hanya cinta, harapan tinggi juga dibebankan di pundaknya. Dia diharapkan bisa mengikuti jejak Maradona membawa Argentina juara dunia.

 

Editor : Abdul Haris

Halaman : 1 2 3

KOMENTAR