Industri Otomotif Makin Kompetitif, Begini Arah Saham Astra

Rahmat Fiansyah · Minggu, 25 Maret 2018 - 18:02 WIB

JAKARTA, iNews.id – Grup Astra yang memiliki beragam lini bisnis  menarik diamati .Perusahaan yang lebih dikenal dengan bisnis otomotif ini menghadapi beberapa pemain baru atau pemain lama yang mengeluarkan varian model terbaru.

PT Bahana Sekuritas menilai ada beberapa hal penting yang perlu diamati dari masing-masing anak usaha Grup Astra. Untuk sektor otomotif yang dikuasai oleh PT Astra International, manajemen menilai ada perbaikan permintaan khususnya dari roda dua yang berasal dari luar Jawa, sebagai dampak dari membaiknya harga batu bara di pasar global.

Namun permintaan terhadap kendaraan roda empat bakal menghadapi persaingan dari beberapa pemain baru, seperti Wulling yang mengeluarkan Cortez, Sokon dengan Glory, Misubishi dengan Expander, Nissan dengan Grand Livina New Generation  juga kemungkinan akan mengeluarkan varian baru lainnya, tak ketinggalan Datsun Cross. Tentunya kehadiran beragam varian baru ini akan mengambil market share Astra pada tahun ini hingga tahun depan.

''Kami masih bullish melihat Astra  bila permintaan terhadap otomotif realisasinya di luar perkiraan, karena hal tersebut menjadi konfirmasi terhadap membaiknya daya beli masyarakat,'' kata Kepala Riset dan Strategis Bahana Sekuritas Andri Ngaserin dalam keterangan tertulis yang diterima iNews.id di Jakarta, Minggu (25/3/2018). 

Andri menaikkan rekomendasi atas saham Astra International menjadi beli dari yang sebelumnya tahan, dengan target harga Rp 9.100 per lembar saham.

 Penjualan mobil ritel selama dua bulan pertama tahun ini secara nasional telah mencapai 185.000 unit atau meningkat 17% dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan rata-rata penjualan setiap bulannya sekitar 93.000 unit. Angka ini memperlihatkan daya beli masyarakat semakin membaik dibanding tahun lalu, yang mencatat rata-rata penjualan mobil setiap bulannya sekitar 89.000 unit secara nasional.  

“Kami melihat perubahan strategi dari agen tunggal pemegang merk Toyota dan Daihatsu yang lebih mengutamakan kenaikan keuntungan dibanding strategi mereka selama ini yang mementingkan market share. Karenanya kami memperkirakan kinerja otomotif Astra tetap masih akan positif pada tahun ini,'' papar Andri.

Melihat kenaikan profitabilitas Astra di bisnis otomotif, Bahana merevisi  laba per saham (earning per share/EPS) perusahaan berkode saham ASII ini. Tahun ini pendapatan diperkirakan  mencapai Rp228 triliun, kemudian pada 2019 diperkirakan Rp249,9 triliun.

Laba bersih pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp22,2 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 21,5 triliun. Sedangkan 2019 lababersih diperkirakan mencapai Rp24,41 triliun dariperkiraan sebelumnya Rp23,7 triliun. Dengan demikian EPS pada 2018 diperkirakan sebesar Rp548, dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp531. Sedangkan pada 2019 EPS diperkirakan pada kisaran Rp603 dari perkiraan sebelumnya, Rp584.

United Tractors (UNTR)

Kinerja United Tractors diperkirakan semakin membaik tahun ini, yang telah tercermin sejak tahun lalu. Bila tahun lalu perseroan yang menjual alat berat ini mampu menjual 3.788 unit,  pada tahun ini manajemen menargetkan penjualan alat berat berada pada kisaran 4.200 - 4.500 unit. Pertumbuhan  ditopang oleh sektor pertambangan khususnya alat-alat bagi pertambangan besar.   

Pada Januari, volume penjualan alat berat naik sebesar 50 persen menjadi 405 unit dibanding periode yang sama tahun lalu, terutama ditopang meningkatnya penjualan alat berat dari sektor pertambangan. Pencapaian ini memperkuat perkiraan Bahana atas penjualan alat berat sepanjang tahun ini sebesar 4.787 unit, akan tercapai.   

''Risiko yang perlu dicermati dari UNTR adalah bila harga batubara turun, curah hujan yang lebih besar dari perkiraan semula yang bisa berakibat negatif terhadap produksi tambang, juga depresiasi rupiah terhadap dolar,'' ujar Andri.

Dia merekomendasikan beli saham UNTR dengan perkiraan target harga naik menjadi Rp42.200 per lembar dari perkiraan sebelumnya Rp39.700 per lembar.

Bahana  merevisi ke bawah EPS UNTR pada tahun ini dan tahun depan karena asumsi margin yang lebih konservatif serta belanja modal yang diperkirakan lebih tinggi. Ini  karena Grup Astra akan semakin meningkatkan investasi di luar bisnis otomotif.

Tahun ini pendapatan diperkirakan naik menjadi Rp81,5 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp80,3 triliun, sedangkan 2019 diperkirakan naik ke kisaran Rp92,7 triliun dari perkiraan sebelumnya, Rp89 triliun.

Laba bersih diperkirakan mencapai Rp9,7 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp10 triliun pada akhir 2018. Sedangkan 2019  diperkirakan menjadi Rp11,1 triliun dari perkiraan sebelumnya,  Rp11,7 triliun. Dengan demikian, perkiraan EPS pada tahun ini turun menjadi Rp2.597 dari perkiraan sebelumnya Rp2.678, sedangkan tahun depan diperkirakan turun menjadi Rp2.983 dari perkiraan sebelumnya Rp3.131.

Di bagian lain, masuknya Grup Astra ke bisnis ojek online melalui Gojek akan menjadi perhatian serius Bahana untuk beberapa tahun ke depan karena saat ini manajemen masih berupaya mengembangkan sinergi bisnis dengan Gojek.

Astra sedang mengembangkan inisiatif digital melalui Astra Digital Plan (ADP) untuk melakukan integrasi berbagai bisnis, juga melakukan sistem pengumpulan data yang belum pernah dilakukan perseroan sebelumnya. Langkah ini bertujuan untuk  mengumpulkan berbagai data penting demi mengoptimalkan seluruh bisnis Grup Astra.

Editor : Rahmat Fiansyah

KOMENTAR