Membedah Prospek Emiten Konstruksi BUMN

Rahmat Fiansyah · Kamis, 22 Februari 2018 - 16:13 WIB
Membedah Prospek Emiten Konstruksi BUMN

JAKARTA, iNews.id – Saham sektor konstruksi BUMN –bersama sektor konsumer- dinilai memiliki peluang untuk bersinar tahun ini.

Pada tahun lalu, saham-saham yang digadang-gadang akan cemerlang seiring dengan kebijakan pemerintah mempercepat proyek infrastruktur, justru membuat para investor yang menaruh harapan harus kecewa. Hal ini lantaran saham-saham tersebut diterpa isu negatif berupa terganggunya arus kas (cashflow) perusahaan sehingga dikhawatirkan memengaruhi kemampuan perusahaan mendapatkan proyek baru.

Dalam riset yang dirilis akhir Januari 2018, Mandiri Sekuritas menetapkan status “overweight” terhadap saham-saham konstruksi dengan saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebagai top picks dengan potensi upside tertinggi. Mansek pun menetapkan target price ADHI sebesar Rp2.600/lembar saham.

Sejak awal tahun, saham-saham konstruksi memang melejit meskipun belakangan mulai terkoreksi akibat insiden kecelakaan kerja. Saham ADHI misalnya, sudah naik sekitar 28 persen secara year-to-date (ytd). Saham PTWaskita Karya Tbk (WSKT) menguat sekitar 33 persen sementara saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga sudah naik sekitar 25 persen. Saham PT PP Tbk (PTPP) naik sekitar 19 persen.

“Empat emiten konstruksi terbesar (the big four) kembali mendapat kontrak jumbo pada tahun lalu dengan total nilai kontrak baru mencapai Rp179,4 triliun, naik 3 persen secara year-on-year, jauh melewati target yang dipatok manajemen,” kata Analis Mansek, Bob Setiadi bersama dengan rekannya Edbert Surya.

Bob menyebut, WSKT masih memegang porsi kontrak terbesar secara nominal pada tahun lalu sebesar Rp69,97 triliun, diikuti oleh WIKA Rp54,76 triliun, PTPP Rp32,6 triliun, dan ADHI Rp16,5 triliun. Kendati demikian, ADHI mencatat pertumbuhan tertinggi untuk kontrak baru sebesar 133 persen.

Pada tahun ini, kata Bob, pihaknya masih optimis empat emiten konstruksi BUMN tersebut akan mendapat kontrak baru yang besar. WSKT diprediksi kembali mendapat kontrak terbesar tahun 2018 sebesar Rp70 triliun, diikuti WIKA Rp56 triliun, PTPP Rp49 triliun, dan ADHI Rp23 triliun. ADHI dinilai tidak akan mendapatkan kontrak jumbo saat mendapat proyek kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi senilai Rp20,7 triliun.

Perolehan kontrak tersebut memiliki korelasi besar terhadap kinerja emiten. Pada 2017, WSKT mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba bersih hingga triple digit masing-masing 132,57 persen dan 219,39 persen. Emiten yang dikomandoi oleh M. Choliq tersebut mencatat pendapatan Rp3,07 triliun dan laba bersih Rp406,62 miliar pada tahun lalu.

Kinerja WIKA pada tahun lalu juga tak kalah cemerlang dengan meraup pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing 40,07 persen dan 241,94 persen. Perusahaan yang dinakhodai Bintang Perbowo tersebut meraih pendapatan Rp2,72 triliun dan laba bersih Rp245,07 miliar.

Sementara PTPP mencatat pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp2,91 triliun (12,79 persen) dan Rp130,15 miliar (32,58 persen) dan ADHI tahun lalu mencatat pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp2,24 triliun dan Rp19,14 miliar (79,21 persen).

Raihan tersebut mengindikasikan WSKT masih menjadi emiten terbesar di sektor konstruksi meski WIKA lebih efisien dalam menghasilkan laba bersih.

Berdasarkan data morningstar, berikut daftar valuasi saham empat emiten konstruksi BUMN diukur dari price earning ratio (PER) dan price book value (PBV). Saat ini rata-rata PER dan PBV di sektor ini masing-masing 19,9x dan 1,9x:

1. WSKT PER 11,5x dan PBV 3,1x

2. WIKA PER 16,9x dan PBV 1,5x

3. PTPP PER 12,4x dan PBV 1,9x

4. ADHI PER 21,2x dan PBV 1,5x

Editor : Rahmat Fiansyah