Xiaomi, Beras Kecil yang Mengguncang Dunia

· Sabtu, 18 November 2017 - 22:06 WIB

JAKARTA, iNews.id - Dari perusahaan yang "coba-coba" membuat smartphone, Xiaomi melesat jadi salah satu vendor ponsel terbesar dunia. Beras kecil (arti xiaomi dalam bahasa China) itu bahkan terus berevolusi, menelurkan berbagai piranti teknologi yang dibutuhkan manusia.

Lompatan besar Xiaomi tak bisa dilepaskan dari Lei Jun, sang pendiri. Bersama sejumlah koleganya pada 2010 alumnus Universitas Wuhan ini membangun perusahaan ponsel cerdas. ”Pada 2010 saya melihat ada tren perubahan dari feature phone ke smartphone di China,” ujar Lei. “Hei, kami rasa ada kesempatan besar di sini,” sambung dia.

Lei sesungguhnya bukan orang baru di dunia teknologi. Memulai sebagai teknisi di Kingsoft, perusahaan pecahan dari Jin Shan (perusahaan perakit PC IBM di China), enam tahun kemudian dia sudah ditunjuk menjadi CEO.

Ambisi Lei di dunia teknologi menggebu-gebu. Dari Kingsoft dia mulai merancang perusahaan sendiri. Lahirlah perusahaan rintisan (startup) Joyo yang menyediakan pengunduh piranti lunak. Perusahaan ini lantas diubah menjadi platform e-commerce yang kelak dijual ke Amazon.

Kesuksesan awal itulah yang mengkristalkan keinginan Lei untuk mewujudkan mimpinya, membuat perusahaan ponsel cerdas. Lahirlah Xiaomi dengan produk-produk ponsel berkualitas, tapi dijual dengan harga terjangkau.

Model bisnis baru yang dilahirkan Xiaomi itu benar-benar menggebrak. Sebutan ”iPhone” dari China pun melekat pada brand ini. Pada 2014, perusahaan tersebut menempat posisi kelima perusahaan ponsel terbesar di dunia dengan aset USD46 miliar.

Tapi,  kejutan Xiaomi memang tak lama. Saat ini Oppo dan Vivo terus merongrong dominasi Xiaomi, membuat pasarnya hanyas tinggal sepertiga. Di China konsumen sudah mulai membeli ponsel kedua, bahkan ketiga, dan mereka tidak selalu suka yang murah. Itu yang menjadikan permintaan terhadap model flagship seperti Huawei P9 dan Oppo R9 justru melonjak. Pada 2016 Xiaomi tidak merilis angka penjualan ponsel mereka.

Menyerahkan Xiamo? Tidak, mereka telah menyiapkan berbagai strategi untuk menaklukkan pasar.  

Melangkah ke IoT
Xiaomi sadar benar pemain pasar smartphone dan e-commerce sesak dan kompetisi makin keras. Karenanya, sejak 2013, mereka sudah mengeksplorasi ranah baru: internet of things (IoT).

Menurut CEO Lei Jun, industri IoT dapat lebih besar dari ponsel. ”Karena nantinya semua perangkat elektronik di hidup Anda akan menjadi pintar,” ungkapnya. Satu hal lain yang disadari Jun adalah belum ada satu perusahaan yang bisa dominan di semua sektor (IoT). Itulah yang mereka incar.

”Nantinya konsumen hanya memilik 1 ponsel, tapi terhubung dengan puluhan bahkan ratusan perangkat yang terhubung internet (connected devices),” tambahnya.



Xiaomi tak membuat satu-satu perangkat IoT seperti TV, kulkas, hingga jam tangan pintar. Mereka mengambil langkah cepat dan efektif: berinvestasi sekaligus di 77 perusahaan. Xiaomi memberikan perusahaan-perusahaan itu akses ke desainer, pemasar, serta jaringan penjualan mereka yang masif. Sebagai gantinya adalah 10 persen-20 persen saham serta hak untuk menjual produk-produk tersebut dengan label Xiaomi.

Karena itu, jangan heran jika Anda sudah mulai menemukan berbagai produk Xiaomi yang bukan ponsel. Sebut saja air purifier, kamera, powerbank dan lain-lain. ”Kami menggunakan platform Xiaomi untuk mengangkat perusahaan-perusahaan tersebut ke level baru,” terangnya.
 
Menurut dia, hingga 2016, pihaknya telah menjual 50 juta unit connected devices dan empat dari perusahaan yang telah mereka “bina” memiliki penguasaan pasar (market cap) senilai USD1 miliar.

Mi Air Purifier, misalnya, menjadi penjernih udara paling populer di China. Padahal dulu perusahaan penjernih udara itu sangat kecil dan tidak terkenal. Xiaomi mengklaim bahwa mereka telah menjadi perusahaan inkubator hardware paling sukses di dunia.


Terhubung dalam Satu Aplikasi
Xiaomi masih punya satu kunci lagi yang membuat mereka berbeda. Selain sangat fokus di hardware, departemen software mereka juga sangat baik. Sistem operasi MIUI adalah kekuatan ponsel Xiaomi selain menghadirkan hardware dengan spesifikasi tinggi di rentang harganya. MIUI memiliki banyak fitur yang tidak ditemukan di software Android lainnya maupun iOS.


Kekuatan software itupun menjadi salah satu penentu sukses Xiaomi di IoT, terutama lewat software yang disebut Mi Home. Nantinya Mi Home ini akan menjadi pusat jaringan atau platform dari seluruh perangkat IoT Xiaomi. Lewat software ini lah masing-masing berangkat dan berbicara dan berkomunikasi.

Keleluasaan ini yang tidak dimiliki oleh vendor lain. Di pameran teknologi seperti CES dan MWC, misalnya, ada banyak sekali perangkat IoT. Namun, mereka berkomunikasi menggunakan platform yang berbeda-beda sehingga menyulitkan pengguna. Langkah ini sebenarnya tidak hanya dilakukan Xiaomi, LeEco, Huawei, dan Lenovo sudah melirik ke arah sana.

Target Tinggi
Sekitar 2,5 tahun silam CEO Lei Jun berujar pada sekelompok tim engineer untuk membuat ponsel baru. Dia tidak memberi deadline, hanya satu tujuan: menciptakan ponsel tanpa bezel.

Bezel merupakan istilah yang digunakan untuk bagian frame luar layar sebuah perangkat. Fungsinya beragam dan sangat vital, mulai memperkuat smartphone hingga mempermudah penggunaan layar sentuh. Tapi itulah yang diinginkan Lei, membuat ponsel yang terlihat seperti bongkahan kaca.

Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mi Mix akhirnya dikenalkan. Inilah gambaran ponsel tanpa bezel yang pernah diproduksi. Mi Mix hanya seharga Rp6,7 jutaan (4GB RAM dan 128GB ROM) dan Rp7,7 jutaan untuk 6GB RAM dan 256GB ROM.

Editor : Zen Teguh

TAG :

KOMENTAR