BMKG: Ada 9 Titik Panas di Sumatera

Antara ยท Jumat, 31 Agustus 2018 - 18:57 WIB
BMKG: Ada 9 Titik Panas di Sumatera

Asap membubung tinggi dari lahan yang terbakar di Pedamaran Induk, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

BANDA ACEH, iNews.id  - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mengungkapkan masih ada sembilan titik panas yang terpantau oleh satelit di wilayah Sumatera. Titik panas tersebut berada di tiga provinsi yakni Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung.

"Pada Jumat petang pukul 17.00 WIB tadi, satelit mendeteksi titik panas di tiga provinsi. Tapi tak satu pun di wilayah Aceh," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Jumat (31/8/2018).

Dari sembilan titik panas itu, kata dia, satelit hanya menemukan empat titik di antaranya memiliki persentase tingkat kepercayaan yang menunjukkan patut diduga sebagai titik api, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sebelumnya pada Jumat pagi, BMKG setempat merilis 57 titik panas tersebar di delapan kabupaten di Aceh. Mayoritas titik panas ini terkosentrasi di daerah dataran tinggi, dan 26 titik di antaranya dalam kategori patut diduga dan sebagai titik api.

"Tidak adanya titik panas di Aceh ini, bisa saja sensor modis terpasang di satelit terganggu. Meski demikian, bagi daerah rawan terbakar, harus tetap meningkatkan kewaspadaan," ujarnya.

BACA JUGA: BMKG: 57 Titik Panas Terdeteksi di Wilayah Aceh

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Raffles B Panjaitan mengatakan, tahun ini pemerintah mengawal ketat wilayah rawan karhutla, sehingga berhasil menurunkan jumlah titik api hingga 96,5 persen di seluruh Indonesia dalam periode 2015-2017.

"Berdasarkan data hasil pantauan satelit milik NOAA, jumlah titik api di 2015 mencapai 21.929, sedangkan di 2016 menurun menjadi 3.915. Pada 2017, jumlah titik api kembali menurun menjadi 2.257," kata Raffles.
 
KLHK mencatat luas area hutan dan lahan yang terbakar di 2015 mencapai 2.611.411 hektare (ha). Angka ini menurun menjadi 438.360 ha di 2016, lalu turun lagi menjadi 165.464 ha di 2017.

"Sejak 2016, perusahaan tidak berani lagi melakukan pembukaan lahan dengan membakar, ini berpengaruh. Kalau pun ada yang terbakar itu hanya spot-spot kecil saja karena kelalaian," ujarnya.


Editor : Muhammad Saiful Hadi