Dirjen PAS: Napi Lapas Aceh Kabur Usai Siram Petugas dengan Air Cabai

Ilma De Sabrini ยท Jumat, 30 November 2018 - 17:06 WIB
Dirjen PAS: Napi Lapas Aceh Kabur Usai Siram Petugas dengan Air Cabai

Polisi menangkap salah satu dari ratusan napi yang kabur dari Lapas kelas IIA di Reuloh, Aceh Besar, Kamis (29/11/2018). (ANTARA FOTO/Ampelsa/ama)

JAKARTA, iNews.id – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (PAS) masih mendalami kasus kaburnya ratusan narapidana (napi) Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Banda Aceh di kawasan Lambaro, Aceh Besar. Sejumlah fakta dikumpulkan, salah satunya serangan kepada petugas dan Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) dengan menyiramkan air cabai.

Direktur Dirjen PAS Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami mengatakan, sebelum aksi kabur massal para napi, mereka sempat melempar air cabai ke arah petugas lapas. Aksi itu dilakukan saat petugas sedang melerai terjadinya perkelahian.


BACA JUGA:

Penerapan SOP Keamanan yang Ketat Diduga Penyebab Napi di Aceh Kabur

Hingga Jumat Siang, 26 Napi Kabur dari LP Aceh Besar Sudah Ditangkap

Napi di Lapas Banda Aceh Kabur, Ditjenpas Evaluasi SOP Pengamanan


"Mereka (napi) berantem (berkelahi), kemudian didatangi oleh Kapala KPLP dan Kasi keamanan ketertiban untuk mengecek keributan yang terjadi. Para napi itu ribut di belakang pintu ornamen, begitu petugas datang langsung disiram air cabai," kata Puguh pada konferensi pers di Kantor Dirjen PAS, di Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (30/11/2018).

Dia menjelaskan, peristiwa kaburnya napi bertepatan saat akan menunaikan Salat magrib. Mereka memanfaatkan momentum saat petugas dan sebagian napi sedang khusyuk salat magrib untuk melarikan diri. "Saat salat magrib itu dijadikan sebagai dasar untuk mereka kabur," ujarnya.

Kendati demikian, hal itu masih belum dapat dipastikan. Saat ini masih terus dilakukan pendalaman soalnya indikasi adanya rencana napi yang melarikan diri. "Kami belum tahu nanti hasil pendalamannya. Direktur Kamtib saat ini sudah ada di sana untuk proses penyelidikan," ucapnya.


Editor : Donald Karouw