Eksportir Kopi Arabika Gayo Terancam Kehilangan 30 Persen Pasar di Uni Eropa

Yusradi Yusuf ยท Minggu, 13 Oktober 2019 - 18:00 WIB
Eksportir Kopi Arabika Gayo Terancam Kehilangan 30 Persen Pasar di Uni Eropa

Kopi Gayo terancam kehilangan 30% pasar Uni Eropa akibat kandungan glyphosate yang melebihi ambang batas. (Foto: iNews.id/Yusradi Yusuf).

ACEH TENGAH, iNews.id - Eksportir kopi arabika gayo khawatir kehilangan 30 persen pasar Eropa. Hal ini akibat sejumlah negara yang selama ini menjadi pembeli utama menolak membeli produk biji kopi arabika dari Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Menurut Ketua Asosiasi Produser Fairtrade Indonesia, Armiadi, penolakan beberapa Negara Uni Eropa ini akibat hasil uji laboratorium menyatakan kopi gayo mengandung zat kimia glyphosate yang melampaui ambang batas.

Glyphosate merupakan herbisida berspektrum luas yang dapat mengendalikan gulma semusim maupun tahunan di daerah tropis pada waktu pasca-tumbuh (post emergence). Herbisida ini biasa digunakan petani untuk mematikan rumput di areal kebun.

Sebelum masuk ke negara tujuan, kopi gayo yang sudah ada di pelabuhan diambil sampelnya untuk diuji oleh pemerintah Uni Eropa. Hasilnya, hasil glyphosate kopi ini melebihi ambang batas dan diperintahkan untuk kembali ke Indonesia.

BACA JUGA: Kunjungan di Aceh, Jokowi Berharap Ekspor Kopi Indonesia Dapat Lebih Luas

Selain itu, ada pula kopi hayo yang sudah ada perjanjian dengan pembeli, memerlukan deklarasi dari UNI Eropa jika kopi tersebut organic. Satu-satunya cara mengetahuinya dengan cara diuji di laboratorium.

“Sebelum dikirim, beberapa eksportir mengirim sampelnya ke luar negeri untuk diperiksa, dan hasilnya memang kandungan glyphosate di kopi ini melebihi ambang batas,” katanya.

Armiadi menyebutkan ambang batas yang ditetapkan Uni Eropa terhadap unsur glyphosate pada biji kopi hanya 0,01. Sementara hasil uji lab dari sampel yang dikirimkan oleh beberapa eksportir kopi arabika gayo, mencapai 0,028.

“Jika Uni Eropa tidak merubah kebijakannya, dikhawatirkan kopi arabika gayo akan kehilangan pasar di Negara Eropa,” katanya.

BACA JUGA: Indonesia Eksportir Kopi Terbesar di Dunia

Isu ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun negara penghasil kopi seperti Brazil dan Kolombia. Jika Uni Eropa tidak merubah aturannya, maka bisa jadi 30 persen pasar Uni Eropa terhadap kopi akan hilang karena kopi tidak dapat masuk lagi.

Dampak dari ditolaknya ekspor kopi ini mengakibatkan suplai kopi akan menumpuk di dalam negeri. Permintaan akan berkurang dan harga akan menurun. Harga kopi gayo saat ini mencapai dua kali lipat dari harga kopi dunia, yakni 5,5 Dolar AS per kilogram sedangakan kopi Brazil mencapai 2,8 Dolar AS per kilogram.

Keunggulan Kopi Gayo selama ini terletak pada nilai organiknya, tak heran harganya bisa dua kali lipat dibanding kopi biasa.

Dia berharap agar Pemerintah Daerah segera mengatur pendistribusian herbisida di wilayah-wilayah yang dikategorikan sebagai sumber produk ekspor. “Di dua wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah jika memungkinkan dilarang penjualan herbisida,” katanya.


Editor : Umaya Khusniah