Kebakaran Lahan dan Hutan, Aceh Barat Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Asap

Antara ยท Rabu, 07 Agustus 2019 - 12:56 WIB
Kebakaran Lahan dan Hutan, Aceh Barat Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Asap

Sejumlah pengendara menembus kabut asap saat melintasi Jalan Lintas Nasional Banda Aceh -Medan di Desa Cot Darat, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Rabu (7/8/2019). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

MEULABOH, iNews.id - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat resmi menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini setelah kian meluasnya karhutla di daerah tersebut sejak awal Juli 2019.

Penetapan status ini dituangkan dalam Keputusan Bupati Aceh Barat Nomor 550 Tahun 2019 tanggal 5 Agustus 2019, yang ditandatangani Bupati Aceh Barat H Ramli MS dan turut ditembuskan kepada Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia di Jakarta, Menteri Lingkungan Hidup RI, Kepala BNPB, Gubernur Aceh, Ketua DPR Aceh, serta pihak terkait lainnya.

"Penetapan status siaga darurat bencana asap ini untuk mengantisipasi dampak yang diakibatkan dari karhutla di Aceh Barat," kata H Ramli MS, Rabu (7/9/2019) di Meulaboh.

BACA JUGA: Dampak Karhutla Riau, 1.136 Warga Terjangkit ISPA

Menurutnya, keputusan dilakukan berdasarkan hasil rapat koordinasi siaga darurat bencana asap akibat Karhutla pada tanggal 2 Agustus 2019 bersama perangkat daerah, instansi terkait seperti TNI, Polri dan BPBD.

Setelah adanya pembentukan status siaga tersebut, pemerintah daerah juga akan membentuk pos komando yang melibatkan perangkat dan instansi terkait sesuai dengan tugas dan fungsinya. Semua akan bekerja bersama dalam upaya penanggulangan bencana asap akibat karhutla di daerah tersebut.

"Status keadaan siaga darurat bencana asap akibat karhutla ini akan berlaku sampai dengan tanggal 31 Oktober 2019 mendatang," kata Ramli MS.

Dia berharap, dengan adanya penetapan status itu, pemerintah pusat melalui BNPB segera mengambil langkah strategis agar pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Aceh Barat secepatnya teratasi dan ditanggulangi.


Editor : Donald Karouw