Cari Tempat Aman, Korban Gempa Lombok Megungsi Hingga ke Jembrana

Antara, Kastolani · Senin, 20 Agustus 2018 - 16:29 WIB
Cari Tempat Aman, Korban Gempa Lombok Megungsi Hingga ke Jembrana

Warga Lombok Timur, NTB kembali mengungsi saat gempa susulan 7 SR mengguncang wilayah itu, Minggu (19/8/2018). (Foto: Antara)

NEGARA, iNews.id - Korban gempa di Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengungsi sampai ke Kabupaten Jembrana, Bali, dengan menumpang di rumah saudaranya.

"Saya memutuskan ke sini karena mencari tempat yang lebih aman," kata Chairul Umar (25), pengungsi dari Pulau Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, yang mengungsi bersama istri serta dua anaknya ke Dusun Ketapang, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Senin (20/8/2018).

Apalagi, anaknya masih mengalami trauma akibat gempa tersebut, sehingga setelah sempat beberapa hari hidup di pengungsian, akhirnya memutuskan pulang ke rumah ibunya di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Dengan pertimbangan keamanan serta mencari pekerjaan sementara, Chairul Umar bersama istri serta dua anaknya yang masing-masing masih berusia 10 tahun dan 9 bulan sampai di Desa Pengambengan, Jumat (17/8/2018) lalu.

Meskipun sudah berada di wilayah yang relatif aman dari gempa, Chairul mengaku, masih sering kaget saat mendengar bunyi karena sebelum gempa keras di Lombok, mendengar suara seperti dentuman. "Rata-rata orang di Lombok Utara mendengar dentuman keras sebelum gempa datang. Makanya sampai sekarang, meskipun tidur kalau ada bunyi saya masih sering kaget," katanya.


BACA JUGA: 

Gempa 7 SR Guncang Lombok, Banyak Bangunan Roboh

Update Gempa Lombok 6,9 SR, 10 Tewas 24 Luka 156 Bangunan Rusak


Suyanti (32), istri Chairul mengatakan, saat di Pulau Gili Trawangan berjualan baju di objek wisata setempat bersama suaminya.

Kini, akibat gempa, ia belum tahu kapan bisa berjualan lagi, sedangkan bekal yang dibawa sudah mulai habis, bahkan kesulitan untuk membelikan minyak telon serta "pampers" bagi anaknya yang masih bayi.

Untuk mendapatkan hasil sekadarnya, dia bersama saudaranya di Pengambengan ikut membantu mendorong sampan serta membuka ikan nelayan yang baru datang dari melaut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana Ketut Eko Susilo mengatakan pihaknya sudah menyebarkan formulir ke tiap desa untuk diisi jika ada pengungsi yang masuk ke wilayahnya. "Yang di Desa Pengambengan ini, kami sudah koordinasi dengan aparat desa setempat agar dilakukan pendataan sebagai dasar kami memberikan bantuan," katanya.

Keberadaan Chairul, Suyanti serta Dewi Sekar Ayu dan Novian Chairul Saputra yang menjadi korban gempa Lombok mengundang simpati dari sejumlah kalangan di Desa Pengambengan.

Bantuan swadaya bagi pengungsi yang saat ini berada di rumah Yaniah (40), sepupunya, mulai berdatangan khususnya untuk kebutuhan anak mereka yang masih bayi.

"Tadi spontan kami di desa mengumpulkan sejumlah uang, ini saya serahkan amanah dari kawan-kawan di desa semoga bisa meringankan," kata Rofiq, salah seorang aparat desa yang menjenguk keluarga Chairul.

Sementara untuk Dewi Sekar Ayu yang masih bersekolah kelas V SD, juga mendapatkan perhatian dari SD Negeri 2 Pengambengan yang bersedia menampung sementara agar anak ini tidak terputus pendidikannya.

Selain SD Negeri 2 Pengambengan, MI Darussalam Pengambengan juga menyatakan siap menampung anak pengungsi ini, namun menyerahkan sepenuhnya pilihan untuk menentukan lokasi sekolah kepada Dewi.

Hingga informasi ini dilaporkan, beberapa pihak sudah menyatakan siap untuk memberikan bantuan kepada Chairul beserta keluarganya.

Sebelumnya diberitakan, gempa susulan berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) yang kembali mengguncang Lombok Timur, NTB membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Suasana Kota Lombok juga mencekam karena banyak warga yang menangis terutama anak-anak. Apalagi, semua listrik padam dan saluran komunikasi terputus.

Pantauan iNews di lapangan, Minggu (19/8/2018) malam pukul 22.45 WIB, banyak warga yang kebingungan mencari keberadaan sanak keluarganya. Mereka terpisah saat gempa susulan mengguncang karena masing-masing menyelamatkan diri. 


Editor : Kastolani Marzuki