Gempa Tak Surutkan Kongres IEEE Regional 10 Asia Pasifik di Bali

Ilma De Sabrini · Minggu, 02 September 2018 - 15:46 WIB
Gempa Tak Surutkan Kongres IEEE Regional 10 Asia Pasifik di Bali

Peserta Kongres IEEE Region 10 Asia Pacific Student, Youth, Women in Engineering, and Life Member (SYWL) 2018 berpose bersama di Hotel Prime Plaza, Sanur, Bali, Minggu (2/9/2018). (Foto:Istimewa)

DENPASAR, iNews.id – Sebanyak 255 delegasi dari 15 negara dan 50 sections di Asia Pasifik menghadiri biannual Kongres IEEE Region 10 Asia Pacific Student, Youth, Women in Engineering, and Life Member (SYWL) 2018, di Hotel Prime Plaza, Sanur, Bali. Kongres internasional yang berlangsung 30 Agustus-2 September 2018 ini mengambil topik tentang “Collaborative Innovation for Society Development”.

IEEE atau Institute of Electrical and Electronics Engineers merupakan organisasi profesi nirlaba internasional yang terdiri atas banyak ahli di bidang teknik yang mempromosikan pengembangan standar-standar dan bertindak sebagai pihak yang mempercepat teknologi-teknologi baru dalam semua aspek dalam industri dan rekayasa (engineering). Aspek tersebut mencakup telekomunikasi, jaringan komputer, kelistrikan, antariksa, dan elektronika. IEEE merupakan organisasi terbesar di dunia di bidang tersebut.

IEEE Regional 10 memiliki sekitar 120.000 anggota di 58 Section, yang terdiri dari 1.400 student Branches (SB), profesional muda (Young Professional/YP), Women In Engineering (WIE) dan Life member group.

Kendati dibayangi gempa bumi yang terjadi terus menerus, hal ini tak menyurutkan peserta dari berbagai negara untuk hadir di kongres ini. Delegasi dari 15 negara, mulai India hingga Filipina, Korea sampai Selandia Baru tetap antusias mengikuti semua acara. Untuk diketahui, getaran gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, sampai terasa di Bali. Namun hal ini tak mempengaruhi jalannya kongres.

Hadir dalam acara ini Presiden IEEE terpilih (dunia) James A Jefferies, Direktur IEEE Regional 10 Prof Kukjin Chun, serta IEEE leaders dari Amerika, Eropa, Kanada dan Jepang. Dari Indonesia, Perwakilan Menpora dan Wali Kota Denpasar turut memeriahkan pembukaan kongres ini.

Menjadi negara tuan rumah kongres ini memungkinkan IEEE Indonesia untuk meningkatkan jumlah anggota (engineer) dari Indonesia. Indonesia hanya memiliki satu section dengan 1.500 anggota, ini hanya seper-sepuluh dari sebuah section di India, yang memiliki 10.000 anggota per section-nya.

Menjadi anggota IEEE yang akan memiliki tanggung jawab untuk mendorong negara maju di era bonus demografi dan mengadapi era disruption, Industri 4.0. Menurut General Co-Chair kongres yang juga anggota young professional IEEE Dr Kurnianingsih, kongres ini akan memberikan nilai tambah bagi karir dan jaringan engineer muda agar dapat memainkan perannya dimasa depan.

”Bagi IEEE Indonesia, kami dapat mencontoh best practice tentang cara pengelolaan inisiatif dari berbagai section dari negara lain,” kata Ketua IEEE Indonesia Chapter Prof Dr Fitri Yuli Zulkifli dalam keterangan tertulis yang diterima iNews.id, Minggu (2/9/2018).

Yang menarik, kongres ini ada track untuk anggota life member (LM). Persyaratan IEEE untuk menjadi anggota LM ternyata sangat berat, bukan hanya dedikasi di bidang ke-enginnering yang dihitung (minimal 35 tahun), namun juga blessing dari Sang Maha Pencipta (berusia 65 tahun).

Indonesia memiliki 6 dari 983 anggota life member di IEEE Regional 10. Ketua program LM pada kongres ini, Prof Dr Teddy Mantoro menyampaikan bahwa para anggota LM siap menjadi mentor, khususnya bagi anggota SB dan YP, aktivitas bersama dalam penelitian dan memberikan kuliah-kuliah ke-enginnering-an.

Salah satu yang unik dari IEEE Chapter Indonesia dibandingkan dengan chapter lain di dunia yakni secara khusus Pancasila dinyatakan sebagai dasar pemikiran dalam Anggaran Rumah Tangga IEEE Indonesia, sejak pembentukan IEEE Chapter Indonesia.

 


Editor : Zen Teguh