Bayi Tewas di Tempat Penitipan Anak di Denpasar, Pemilik dan Karyawan Ditangkap

Indira Arri ยท Senin, 13 Mei 2019 - 21:58 WIB
Bayi Tewas di Tempat Penitipan Anak di Denpasar, Pemilik dan Karyawan Ditangkap

Kapolresta Kombes Pol Ruddi Setiawan saat menyampaikan keterangan mengenai penetapan dua tersangka atas kematian bayi di TPA Princess House Childcare, Denpasar, Bali, Senin (13/5/2019). (Foto: iNews/Indira Arri)

DENPASAR, iNews.id – Polresta Denpasar menangkap dua tersangka dalam kasus meninggalnya bayi tiga bulan berinisial ENA di tempat penitipan anak (TPA) Princess House Childcare, Denpasar, Bali, Kamis (9/5/2019). Kedua tersangka sudah ditangkap dan polisi telah memasang garis polisi di TPA tersebut.

Kedua tersangka, yakni pemilik TPA berinisial NMSP (39) dan karyawan TPA berinisial LI alias T (39). Petugas mengamankan sejumlah barang bukti seperti bantal, sprei, botol dot susu bayi, decoder DVR CCTV, dan kain gendongan bayi.

Penetapan tersangka sesuai dengan hasil penyelidikan polisi. Bayi ENA meninggal murni karena kelalaian pemilik dan karyawan TPA Princess House Childcare yang berlokasi di Jalan Drupadi VII Renon, Denpasar. Jasad bayi sudah diatopsi di Instalasi Forensik RSUP Sanglah.

“Bayi perempuan berusia tiga bulan berinisial ENA dalam kondisi lemas hingga meninggal dunia di Rumah Sakit Bros,” kata Kapolresta Kombes Pol Ruddi Setiawan saat gelar kasus di Mapolresta Denpasar, Senin (13/5/2019).


BACA JUGA: Karena Rewel, Bayi di Depok Disiksa Pengasuh hingga Tewas


Kapolresta mengatakan, staf TPA berinisial LI alias T disangkakan melanggar pasal 76B Jo Pasal 77B UU RI No 23 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 359 KUHP.

Sementara pemilik TPA dengan inisial NMSP, disangkakan telah melanggar pasal 76B Jo Pasal 77B UU RI No 23 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 359 KUHP Jo Pasal 55 KUHP. "Karyawan dan pemilik TPA terancam dijatuhi hukuman selama lima tahun penjara," katanya.

Kapolresta mengatakan, Polresta Denpasar juga menemukan TPA itu sudah beroperasi selama tiga tahun. Namun, TPA hanya mengantongi izin yayasan sedangkan dari instansi tidak ada. Selain itu, para staf di TPA tidak memiliki keahlian khusus untuk perawatan anak, hanya lulusan SMP dan SMA.

“TPA ini juga tidak punya ahli gizi, sebagaimana yang mereka sebutkan dalam brosur bahwa mereka menyediakan fasilitas ahli gizi untuk mengatur makanan anak. Mereka hanya mencari informasi melalui internet atau lewat google,” katanya.

Kasus ini berawal dari laporan orang tua bayi, Andika Anggara (27), warga Jalan Akasia XV Gang Seroja, Kesiman, Denpasar. Dia dan istrinya menitipkan dua anaknya, salah satunya bayi ENA di TPA Princess House Childcare, Denpasar, Bali. Bayi ENA, sudah dua minggu dititipkan di TPA itu. Mereka menitipkan kedua anaknya saat pagi sebelum berangkat kerja dan dijmeput sore, setelah pulang kerja.

Namun, saat bayi ENA akan dijemput Kamis (9/5/2019) lalu, karyawan TPA meminta mereka untuk menunggu. Belakangan, karyawan mengatakan, ENA dilarikan ke RS Bros di Jalan Tantular, Denpasar. Ketika Andika bersama istri dan mertuanya ke rumah sakit, pihak rumah sakit mengatakan, ENA sudah meninggal saat dibawa pihak TPA ke rumah sakit.


Editor : Maria Christina